Sekilas Mengenal Tradisi dan Budaya Ono Niha - Nias
Ono Niha - Bahasa Nias yang digunakan sebagai sebutan untuk penduduk asli yang lahir, tinggal, dan hidup serta berasal dari daerah Pulau Nias (Tanö Niha).
Dalam Bahasa Indonesia, ono artinya anak atau keturunan, niha artinya manusia. Secara harafiah Ono Niha bisa diartikan sebagai anak atau keturunan manusia.
Secara umum, Ono Niha lebih dikenal dengan Orang Nias atau Suku Nias.
Dalam Bahasa Indonesia, ono artinya anak atau keturunan, niha artinya manusia. Secara harafiah Ono Niha bisa diartikan sebagai anak atau keturunan manusia.
Secara umum, Ono Niha lebih dikenal dengan Orang Nias atau Suku Nias.
Sebelumnya perlu saya informasikan, meskipun blog saya ini niche-nya tutorial dan pendidikan, akan tetapi tidak berkesalahan bila saya menulis tentang Nias. Rasanya seperti kurang afdol bila saya tidak memperkenalkan dan membagikan informasi tentang daerah saya sendiri.
Bagi saudara-saudara saya sesama suku Nias, semua hal-hal yang saya tulis diartikel ini merupakan informasi umum yang sudah kita ketahui bersama. Disini saya hanya berbagi informasi buat saudara-saudara yang masih belum mengenal dan ingin tahu tentang daerah kita - kepulauan Nias - walaupun hanya sekilas dan tidak begitu mendetail.
Ayo, kita lanjut....
Nias itu apa y??
Nias adalah nama pulau yang terletak di sebelah kiri pulau Sumatera.
Merujuk dari pengertian pulau, pulau Nias atau dalam bahasa Nias disebut Tanö Niha (tanö = tanah, niha = manusia) bisa diartikan sebagai sebidang tanah di daratan Indonesia yang ukurannya kecil dan dihuni oleh sekelompok manusia / suku / orang yaitu suku Nias.
Meskipun ukuran pulaunya kecil, dari segi pemerintahan, Pulau Nias sudah terbagi dalam 4 daerah kabupaten dan 1 daerah kota, yaitu Kabupaten Nias, Kabupaten Nias Utara, Kabupaten Nias Barat, Kabupaten Nias Selatan dan Kota Gunungsitoli. Ke-5 daerah di Nias tergabung dalam otonomi daerah provinsi Sumatera Utara.
Orang Nias umumnya masih menganut sistem budaya dan hukum adat istiadat yang diwarisi secara turun temurun dari kakek dan nenek moyang. Warisan tersebut menjadikan orang Nias masih kental dan tetap bertahan dengan budaya adat lama sehingga tidak mudah terpengaruh oleh budaya daerah lain.
Hukum adat suku Nias dikenal dengan Fondrakö. Fondrakö memuat segala aspek adat istiadat dan tata norma daerah Nias yang diberlakukan dalam kehidupan suku Nias sejak lahir hingga meninggal dunia.
Untuk memudahkan teman-teman dalam mengenal seputar Ono Niha - Nias, artikel ini saya buat dalam beberapa bagian disertai dengan penjelasan.
Bahasa Nias
Dalam kehidupan sehari-hari, suku Nias menggunakan Bahasa Nias - dikenal dengan Li Ono Niha. Bahasa Nias mengenal 6 huruf vokal yaitu a, e, i, o, ö, u. Sementara huruf konsonannya sama persis dengan yang berlaku dalam Bahasa Indonesia.
Uniknya, meski Bahasa Nias dikenal cuma satu tetapi sebenarnya memiliki tiga dialek yang berbeda yaitu dialek utara, tengah, dan selatan. Hal ini dipengaruhi oleh pergeseran pengertian beberapa kata dan perbedaan dalam pengucapan.
Ada 3 daerah yang menggunakan dialek utara yaitu Kabupaten Nias, Nias Utara dan Kota Gunungsitoli. Hanya saja daerah Nias Utara dan beberapa daerah arah utara Kota Gunungsitoli memiliki sedikit perbedaan seperti nada bicara yang berirama dan sedikit lebih lambat dalam pengucapan kata terakhir disetiap kalimat.
Umumnya, dialek utara lebih banyak digunakan terutama dalam pembuatan lagu-lagu Nias.
Dialek tengah digunakan oleh daerah Kabupaten Nias Barat. Dialek tengah mengalami sedikit pergeseran arti pada beberapa kata dari dialek utara. Pengucapan kalimat sedikit lebih cepat dan lembut.
Contohnya: kata "tema", dalam dialek utara artinya "jawab" sementara dari daerah Nias Barat artinya "jemput".
Sementara dialek selatan digunakan di daerah Nias Selatan. Dialek selatan dikenal dengan perubahan arti kata yang cukup signifikan dibanding dialek utara dan tengah. Ciri khasnya yaitu sedikit lebih tegas dan keras.
Bagi suku Nias perbedaan dialek ini bukanlah sebuah persoalan besar karena dengan hubungan sosial dan tali persaudaraan antar daerah yang sudah terbina selama ini, memudahkan untuk bertukar informasi dalam hal pengertian bahasa dari daerah masing-masing.
Uniknya, meski Bahasa Nias dikenal cuma satu tetapi sebenarnya memiliki tiga dialek yang berbeda yaitu dialek utara, tengah, dan selatan. Hal ini dipengaruhi oleh pergeseran pengertian beberapa kata dan perbedaan dalam pengucapan.
Ada 3 daerah yang menggunakan dialek utara yaitu Kabupaten Nias, Nias Utara dan Kota Gunungsitoli. Hanya saja daerah Nias Utara dan beberapa daerah arah utara Kota Gunungsitoli memiliki sedikit perbedaan seperti nada bicara yang berirama dan sedikit lebih lambat dalam pengucapan kata terakhir disetiap kalimat.
Umumnya, dialek utara lebih banyak digunakan terutama dalam pembuatan lagu-lagu Nias.
Dialek tengah digunakan oleh daerah Kabupaten Nias Barat. Dialek tengah mengalami sedikit pergeseran arti pada beberapa kata dari dialek utara. Pengucapan kalimat sedikit lebih cepat dan lembut.
Contohnya: kata "tema", dalam dialek utara artinya "jawab" sementara dari daerah Nias Barat artinya "jemput".
Sementara dialek selatan digunakan di daerah Nias Selatan. Dialek selatan dikenal dengan perubahan arti kata yang cukup signifikan dibanding dialek utara dan tengah. Ciri khasnya yaitu sedikit lebih tegas dan keras.
Bagi suku Nias perbedaan dialek ini bukanlah sebuah persoalan besar karena dengan hubungan sosial dan tali persaudaraan antar daerah yang sudah terbina selama ini, memudahkan untuk bertukar informasi dalam hal pengertian bahasa dari daerah masing-masing.
Informasi lebih lanjut tentang kosa kata bahasa Nias, silahkan baca artikel 500+ Kosa Kata Bahasa Nias.
Ucapan Salam
Ucapan salam yang umum digunakan oleh suku Nias yaitu Ya'ahowu. Kata ini biasanya diucapkan ketika mengawali pembicaraan, bertamu dirumah saudara/kerabat, ataupun ketika bertemu dengan teman/sahabat saat diperjalanan.Ya'ahowu juga dipakai untuk memberikan ucapan salam berdasarkan pembagian waktu, seperti Ya'ahowu zihulöwongi artinya selamat pagi, Ya'ahowu zilaluo artinya selamat siang, Ya'ahowu zitanö'owi artinya selamat sore dan Ya'ahowu zibongi artinya selamat malam.
Pakaian Adat Nias
Pakaian adat dari daerah Nias sangat unik dan menarik. Dibuat dengan berbagai variasi corak dan ornamen yang dipadukan dengan tiga warna khas yaitu warna merah, hitam dan kuning.
Tetapi sebagian daerah membuat ciri khas pakaian adatnya masing-masing, misalnya daerah Nias Selatan dibuat dengan lebih dominan warna kuning dan sebagian warna merah, Sementara daerah Nias, Nias Barat, Nias Utara dan Gunungsitoli lebih dominan warna merah dipadukan dengan sebagian warna kuning dan hitam.
Pakaian adat Nias yang dikenakan oleh laki-laki dinamakan Baru Oholu dan yang dikenakan perempuan dinamakan öröba Si'öli.
Tetapi sebagian daerah membuat ciri khas pakaian adatnya masing-masing, misalnya daerah Nias Selatan dibuat dengan lebih dominan warna kuning dan sebagian warna merah, Sementara daerah Nias, Nias Barat, Nias Utara dan Gunungsitoli lebih dominan warna merah dipadukan dengan sebagian warna kuning dan hitam.
Pakaian adat Nias yang dikenakan oleh laki-laki dinamakan Baru Oholu dan yang dikenakan perempuan dinamakan öröba Si'öli.
Rumah Adat Nias
Rumah adat Nias dinamakan dengan Omo Hada.
Rumah adat Nias dibuat dengan bahan dasar kayu, berbentuk oval, beratapkan rumbia dan didesain dengan ukuran-ukiran unik. Kayu yang digunakan pun bukanlah kayu sembarang. Untuk tiang saja harus menggunakan kayu keras seperti kayu manawa, papan yang dijadikan lantai dan dinding berbahan kayu simalambuo.
Rumah adat Nias dibuat dengan bahan dasar kayu, berbentuk oval, beratapkan rumbia dan didesain dengan ukuran-ukiran unik. Kayu yang digunakan pun bukanlah kayu sembarang. Untuk tiang saja harus menggunakan kayu keras seperti kayu manawa, papan yang dijadikan lantai dan dinding berbahan kayu simalambuo.
Marga Suku Nias
Suku Nias menerapkan garis keturunan mengikuti ayah kandung atau dikenal dengan istilah marga atau bahasa Nias-nya Mado.Misalnya, garis keturunan dengan kakek moyangnya bernama Mendröfa, maka pada nama akhir semua keturunannya harus diikuti oleh marga Mendröfa.
Beberapa marga yang ada di daerah nias, antara lain:
Amazihönö, Amuata, Baeha, Baene, Bate'e, Bawamenewi, Bawaniwa'ö, Bawö, Bali, Bohalima, Bu'ulölö, Buaya, Bunawölö, Bulu'aro, Bago, Bawa'ulu, Bidaya, Bazikho, Baewa, Dachi, Daeli, Daya, Dohare, Dohöna, Duha, Duho, Dohude, Dawölö'au, Farasi, Finowa'a, Fakho, Fa'ana, Famaugu, Fanaetu, Gaho, Garamba, Gea, Ge'e, Giawa, Gowasa, Gulö, Ganumba, Gaurifa, Gohae, Gori, Gari, Gaidö, Halawa, Hala Wawa, Harefa, Haria, Harita, Hia, Hondrö, Hulu, Humendru, Hura, Hoya, Harimao, Halu'afau, Lahagu, Lahömi, La'ia, Luaha, Laoli, Laowö, Larosa, Lase, Lawölö, Lo'i, Lömbu, Lamölö, Lature, Luahambowo, Lazira, Lawelu, Laweni, Lasara, Laeru, Löndu Go'o, Lugu, Maduwu, Manaö, Maru'ao, Maruhawa, Marulafau, Mendröfa, Maruabaya, Möhö, Marunduri, Mölö, Nazara, Ndraha, Ndruru, Nehe, Nakhe, Nadoya,Sadawa, Sa'oiagö, Sarumaha, Saro, Sihönö, Sihura, Sisökhi, Saota,Taföna'ö, Telaumbanua, Talunohi, Tajira, Wau, Wakho, Waoma, Waruwu, Wehalö, Warasi, Warae, Wohe, Zagötö, Zai, Zalukhu, Zamasi, Zamago, Zamili, Zandroto, Zebua, Zega, Zendratö, Zidomi, Ziliwu, Ziraluo, Zörömi, Zalögö, Zamago zamauze.
Kalau ada yang kurang silahkan ditambah heheheheh.
Amaedola Li Niha
Suku Nias lebih banyak menggunakan Amaedola Li Niha - Peribahasa Nias - pada acara adat atau pesta pernikahan. Kadang juga dijadikan sebagai kata-kata motivasi, nasehat, amanah, dan petunjuk dalam melakukan sesuatu.
Seperti amaedola berikut:
Umumnya peribahasa ini dijadikan sebagai salah satu nasehat agar mengedepankan kebersamaan dan kerjasama dalam menyelesaikan suatu masalah atau kegiatan yang membutuhkan tenaga dan partisipasi orang dengan jumlah banyak. Dengan kebersamaan dan kerjasama maka semua masalah akan mudah untuk menyelesaikannya.
Jika sobat ingin mengetahui amaedola ono niha yang lain, bisa dibaca di artikel saya mengenai Kumpulan Peribahasa/Amaedola Ono Niha.
Seperti amaedola berikut:
Aoha noro nilului wahea, aoha noro nilului waoso, alisi tafadaya-daya hulu tafaewolo-wolo.
Umumnya peribahasa ini dijadikan sebagai salah satu nasehat agar mengedepankan kebersamaan dan kerjasama dalam menyelesaikan suatu masalah atau kegiatan yang membutuhkan tenaga dan partisipasi orang dengan jumlah banyak. Dengan kebersamaan dan kerjasama maka semua masalah akan mudah untuk menyelesaikannya.
Jika sobat ingin mengetahui amaedola ono niha yang lain, bisa dibaca di artikel saya mengenai Kumpulan Peribahasa/Amaedola Ono Niha.
Pernikahan Adat Nias
Untuk melangsungkan pernikahan di daerah Nias, dibutuhkan persiapan yang matang baik dari pihak laki-laki maupun perempuan.Tak jauh beda dengan yang kita kenal selama ini, pernikahan itu merupakan bagian ibadah yang sakral dan perlu dipikirkan dengan baik-baik karena ini menyangkut pendamping atau teman semasa hidup.
Ya, begitu pula dengan daerah Nias. Tetapi, bukan itu saja sebenarnya. Ada satu hal lagi yang cukup penting dalam pernikahan di daerah Nias yaitu jujuran, atau bahasa Niasnya dikenal "böwö".
Böwö atau jujuran merupakan mas kawin yang sudah disepekati bersama dan diberikan/dibayarkan oleh pihak laki-laki kepada pihak keluarga perempuan sebagai biaya adat dalam melangsungkan pernikahan.
Selama ini, jujuran yang berlaku didaerah Nias dikenal dengan jumlah yang cukup besar.
Besarnya jujuran bukanlah sesuatu yang mengada-ngada, mengingat biaya pelaksanaan adat yang begitu banyak namanya, harus dilunasi dan dibayarkan sebelum ataupun saat berlangsungnya pesta pernikahan.
Bagi suku Nias, hal ini sudah dianggap sebagai sesuatu yang lumrah dan kebiasaan yang dianggap sebagai kewajaran.
Sah-sah saja, mengingat kemungkinan besar suku Nias hanya menikah sekali dalam seumur hidup dan tidak mengenal perceraian terkecuali jika takdir sang pencipta.
Ada beberapa aturan dalam pernikahan Nias yaitu:
- Dilarangnya pernikahan dengan anggota keluarga sendiri dan sesama marga.
- Tingkatan atas keturunan baik laki-laki maupun perempuan tidak diperbolehkan menikah dengan garis bawah keturunannya seperti pihak paman (garis keturunan dari laki-laki) tidak boleh menikah dengan keponakannya (garis keturunan perempuan), tetapi
- Garis bawah keturunan yaitu keponakan laki-laki dibolehkan menikah dengan tingkatan atas keturunan yang sederajat yaitu anak perempuan dari paman laki-laki, Istilah bahasa Niasnya: sangawuli ba nuwu.
Untuk menambah wawasan sobat tentang adat pernikahan suku Nias, berikut tahapan-tahapan tradisi yang harus dilakukan oleh laki-laki dan perempuan sebelum dan sesudah pernikahan, yaitu:
Tahapan pertama: mempelai laki-laki meminang mempelai perempuan.
Pada tahap pertama, mempelai laki-laki berkunjung ke rumah pihak keluarga perempuan untuk meminang atau melamar si perempuan dengan diperantarai oleh seorang si'o dari laki-laki dan si'o dari perempuan. Si'o dalam hal ini diistilahkan sebagai pos atau penyambung lidah antara pihak laki-laki dan pihak perempuan.
Untuk mencapai kesepakatan bersama antara kedua belah pihak, akan dilakukan oleh kedua si'o. Salah satunya bila pinangan laki-laki diterima atau tidak maka disampaikan melalui si'o.
Jika pinangan laki-laki diterima maka dilanjutkan dengan pertemuan untuk menentukan besar jujuran dan waktu tunangan. Jujuran dinyatakan dalam bentuk uang, emas dan babi.
Tahapan kedua: tunangan (famatua).
Tahap ini dianggap sebagai tahap awal proses pernikahan atau dikenal dengan istilah famatua, ditandai dengan penyerahan atau pemasangan cincin tunangan kepada mempelai perempuan.
Tahap ini diawali dengan acara penyerahan bola nafo atau "mame'e bola" kepada ibu mempelai perempuan yang didalamnya sudah disematkan cincin tunangan atau "laeduru" kepada si mempelai perempuan sebagai bukti bahwa pinangan mempelai laki-laki telah diterima. Acara ini dilakukan di rumah pihak perempuan.
Sebagian daerah juga melakukannya dengan cara pemasangan cincin dijari manis antara mempelai perempuan dan laki-laki secara bergantian.
Di dalam bola nafo (wadah sirih) yang diserahkan oleh mempelai laki-laki, selain cincin juga harus diisi dengan afo yang terdiri dari 5 jenis yaitu:
- Tawuo (sirih)
- Betua (kapur sirih)
- Gambe (gambir)
- Fino (pinang)
- Bago (tembakau)
Pada tahap ini, mempelai laki-laki juga menyerahkan sebagian uang jujuran sebagai simbol perjanjian bahwa si perempuan diikat dan tidak boleh dipinang oleh laki-laki lain.
Selain itu, juga disepakati kapan hari pernikahan dilaksanakan atau istilah bahasa Nias-nya "fangötö bongi".
Beberapa juga tahapan acara pernikahan seperti "femanga bawi nisila hulu" dan "fanunu manu" kadang digabungkan pada pelaksanaan tahapan ini.
Tahapan ketiga: penyerahan böwö (jujuran).
Pada tahap ini mempelai laki-laki mendatangi rumah keluarga mempelai perempuan untuk menyerahkan böwö yang sudah disepakati sejak awal ditemani oleh si'o dan beberapa orang dari pihak keluarga laki-laki.
Tahapan keempat: pesta pernikahan.
Tahapan ini adalah puncak acara atau hari yang paling ditunggu-tunggu. Tetapi sebelum hari pesta pernikahan beberapa rangkaian kegiatan yang harus diselesaikan terlebih dahulu seperti famahowu'ö (pemberkatan nikah), folau/folohe bawi (mengantar babi adat), fame'e nono nihalo, dan famotu (pemberian nasehat).
Acara pesta pernikahan bahasa Nias-nya falöwa.
Pada acara ini akan berlangsung pertemuan kedua pihak keluarga mempelai yang turut dihadiri oleh seluruh warga desa/kampung kedua mempelai, ketua adat dan yang terpenting adalah paman dari kedua mempelai. Tamu undangan juga ikut hadir dalam acara tersebut.
Biasanya dalam acara ini ada banyak babi yang disembelih sebagai persyaratan adat yang harus disuguhkan kepada tamu undangan yang hadir pada acara tersebut.
Acara penting pada tahapan ini yaitu fanika era-era mböwö. Acara ini dipandu oleh ketua-ketua adat dengan memberitahu semua silsilah keturunan mempelai perempuan disusul dengan utang adat mempelai laki-laki dan teguran serta larangan-larangan yang dibebankan kepada mempelai laki-laki.
Setelah rangkaian acara dilakukan maka ditutup dengan acara fame'e tou ono nihalö disusul dengan Famatörö töi ono nihalö (pemberian nama mempelai perempuan).
Tahapan kelima: kunjungan kembali kerumah keluarga mempelai perempuan.
Tahapan ini dinamakan "famuli nukha". Sebagian daerah juga menyebutnya "femanga gahe".
Setelah pesta pernikahan, kedua mempelai mengujungi kembali rumah keluarga mempelai perempuan ditemani oleh anggota keluarga mempelai laki-laki.
Tahapan ini penting dilakukan untuk meminta doa dari orang tua dan saudara/i mempelai perempuan agar terberkati dalam menjalani keluarga baru.
Lagu Tradisional Nias
Setiap daerah pasti memiliki lagu daerah masing-masing. Sudah barang tentu begitu juga dengan daerah Nias.Beberapa lagu tradisional dari daerah Nias, antara lain: Ono Gauko, Tanö Niha Omasi'ö dan lagu yang cukup terkenal dan populer yaitu Tanö Niha.
Berikut lirik lagunya:
Tanö Niha
Cipt. Aro'ö Zebua dan L. Zebua
Tanö Niha banua somasido
Tanö situmbu ya'o föna
He mukoli ndra'o ba zaröu
Ba lö olifudo sa'ia
Tanö si tumbudo
Mohili wa'ebolo ndraso
So nuo nidanö ba mbombo
Fasui asi sebolo
Tanö Niha satabö sinanö
Sowanua khonia lö fa'ambö
Ufabu'u ba ubelegö
Me yaugö sa dötönafö
Tanö omasi'ö
No so'ö ba duduma hörö
Amaedola nina ndra'ugö
Sangebua Sondrorogö
Cipt. Aro'ö Zebua dan L. Zebua
Tanö Niha banua somasido
Tanö situmbu ya'o föna
He mukoli ndra'o ba zaröu
Ba lö olifudo sa'ia
Tanö si tumbudo
Mohili wa'ebolo ndraso
So nuo nidanö ba mbombo
Fasui asi sebolo
Tanö Niha satabö sinanö
Sowanua khonia lö fa'ambö
Ufabu'u ba ubelegö
Me yaugö sa dötönafö
Tanö omasi'ö
No so'ö ba duduma hörö
Amaedola nina ndra'ugö
Sangebua Sondrorogö
Alat Musik Tradisional Nias
Alat musik tradisional daerah Nias yaitu göndra, aramba, faritia, dan koko.Alat musik göndra, aramba, dan faritia biasa dimainkan secara bersama-sama saat pesta pernikahan di daerah Nias. Sebagian juga dijadikan sebagai alat musik pengiring saat melakukan gerakan tarian daerah.
Göndra dimainkan oleh dua orang laki-laki dengan cara dipukul menggunakan bambu. Ukurannya cukup besar dan biasanya digantung di kayu dengan menggunakan tali. Untuk memainkannya pun harus dalam posisi berdiri.
Aramba juga dimainkan dengan cara dipukul. Aramba merupakan alat musik yang diistimewakan dibanding dengan alat musik lainnya. Karena dianggap sebagai benda keramat yang tetap dijaga dan mempunyai nilai yang cukup tinggi. Tak heran bila alat musik ini tetap diwariskan kepada anak cucu hingga saat ini.
Faritia dimainkan dengan cara dipukul menggunakan kayu dan dimainkan oleh dua orang laki-laki secara bergantian.
Koko juga dimainkan dengan cara dipukul. Koko terbuat dari kayu panjang dengan bagian tengah yang sudah dilubangi sebagai wadah untuk menghasilkan bunyi/suara.
Koko biasanya dibunyikan untuk memanggil masyarakat suku Nias jika ada yang hendak dibicarakan atau dibahas bersama.
Alat musik lainnya dari daerah Nias yaitu doli-doli dan keroncong.
Tari Tradisional Nias
Ada beberapa tari tradisional daerah Nias antara lain tari maena, fatele, tari moyo, tari fangowai (tari sekapur sirih).
Tari maena merupakan tari yang pesertanya laki-laki dan perempuan dan dilakukan secara massal atau berkelompok. Tari ini biasa dilakukan saat pesta pernikahan, acara formal atau acara-acara peresmian.
Tari ini diiringi dengan lagu Nias dan musik. Dipandu oleh dua orang penyanyi pengiring dan secara bergantian melakukan nyanyian dengan berselang seling antara semua peserta tari.
Tarian ini sangatlah sederhana dan mudah untuk dipelajari. Dominan gerakannya adalah gerakan kaki yang melakukan perpindahan tempat diikuti perubahan posisi badan dan ayunan tangan peserta tari. Gerakan kaki terdiri dari dua jenis yaitu gerakan kaki dengan gaya segi tiga dan gaya segi empat. Kebanyakan yang digunakan adalah gaya segi empat.
Makna filosofi dari tarian ini adalah kebersamaan, kegembiraan dan kemeriahan.
Tari ini diiringi dengan lagu Nias dan musik. Dipandu oleh dua orang penyanyi pengiring dan secara bergantian melakukan nyanyian dengan berselang seling antara semua peserta tari.
Tarian ini sangatlah sederhana dan mudah untuk dipelajari. Dominan gerakannya adalah gerakan kaki yang melakukan perpindahan tempat diikuti perubahan posisi badan dan ayunan tangan peserta tari. Gerakan kaki terdiri dari dua jenis yaitu gerakan kaki dengan gaya segi tiga dan gaya segi empat. Kebanyakan yang digunakan adalah gaya segi empat.
Makna filosofi dari tarian ini adalah kebersamaan, kegembiraan dan kemeriahan.
Tari perang atau tari baluse (fatele), merupakan tari yang diperagakan secara berkelompok dengan memakai alat peraga perang seperti tombak (toho), pedang (gari) dan perisai (baluse).
Hal ini menggambarkan bahwa penari tari perang layaknya seorang ksatria atau tentara dari daerah Nias.
Tombak atau pedang biasanya berada di tangan kanan penari sebagai alat untuk menyerang lawan atau musuh. Sementara ditangan kiri, memegang perisai sebagai alat pertahanan atau untuk menangkis serangan dari lawan.
Setiap penari juga mengenakan pakaian tari khusus (pakaian perang) yang sudah didesain dengan motif unik dan warna khas daerah Nias yaitu merah, kuning, dan hitam, dilengkapi dengan mahkota di atas kepala.
Tarian unik ini dimainkan oleh sejumlah laki-laki yang cukup kuat dan perkasa sebagai bentuk perwujudan dari ciri khas dan kebiasaan suku Nias yang siap berperang untuk menjaga keamanan desa/kampung dari serangan musuh demi terciptanya kenyamanan dan ketentraman sukunya.
Tarian ini dipimpin oleh seorang komandan sebagai pemberi aba-aba tarian. Mula-mula formasi penari membentuk barisan berjajar panjang dan bila sudah saatnya maka komandan akan memberi aba-aba untuk membentuk formasi melingkar. Pada saat formasi ini kegiatan fatele akan diperagakan secara bergantian oleh penari.
Sepanjang pertunjukkan tarian ini, penari dan komandan meneriakkan kata-kata pembakar semangat secara bergantian.
Biasanya tari ini dimainkan sebagai tari penyambutan tamu khusus. Tarian ini dilakukan di lapangan terbuka dan cukup luas.
Tari moyo merupakan tari yang diperagakan oleh beberapa perempuan dengan memakai baju adat Nias. Tari moyo juga sering disebut dengan tari elang karena gerakannya yang menyerupai burung elang yang sedang terbang sambil mengepakkan sayap.
Saat ini, tari moyo umumnya dijadikan sebagai tarian untuk menyambut para tamu-tamu terhormat seperti penyambutan para pejabat, gubernur, menteri, presiden dan sebagainya, yang berkunjung ke daerah pulau Nias,
Tarian ini dilakukan dengan diiringi musik menggunakan alat musik tradisional Nias. Selain itu, juga diiringi dengan lantunan lagu yang dibawakan oleh pengiring vocal. Awalnya, irama musik dan lagu dimainkan dengan tempo lambat, lama kelamaan berlanjut semakin cepat.
Gerakan penari pun harus disesuaikan dengan irama musik dan lagu. Jika irama musik dan lagu lambat maka gerakan penari juga lambat, demikian juga bila irama musik dan lagu cepat maka gerakan penari pun dilakukan dengan cepat.
Gerakan tarian ini didominasi oleh gerakan tangan seperti sedang mengepakkan sayap, diikuti dengan gerakan kaki yang berjinjit.
Untuk menjadi penari maka harus mengikuti latihan khusus secara terus-menerus sampai gerakannya benar-benar dikuasai. Bahkan sebagian sekolah-sekolah di wilayah Nias sudah menjadikan tari ini sebagai salah satu kegiatan ekstrakurikuler yang terorganisir dalam sebuah wadah sanggar seni budaya. Pada kegiatan ini, siswi yang berminat akan dilatih untuk menjadi penari tari moyo.
Dengan cara ini, tari moyo akan tetap terjaga dan terwarisi secara turun temurun kepada generasi berikutnya.
Hal ini menggambarkan bahwa penari tari perang layaknya seorang ksatria atau tentara dari daerah Nias.
Tombak atau pedang biasanya berada di tangan kanan penari sebagai alat untuk menyerang lawan atau musuh. Sementara ditangan kiri, memegang perisai sebagai alat pertahanan atau untuk menangkis serangan dari lawan.
Setiap penari juga mengenakan pakaian tari khusus (pakaian perang) yang sudah didesain dengan motif unik dan warna khas daerah Nias yaitu merah, kuning, dan hitam, dilengkapi dengan mahkota di atas kepala.
Tarian unik ini dimainkan oleh sejumlah laki-laki yang cukup kuat dan perkasa sebagai bentuk perwujudan dari ciri khas dan kebiasaan suku Nias yang siap berperang untuk menjaga keamanan desa/kampung dari serangan musuh demi terciptanya kenyamanan dan ketentraman sukunya.
Tarian ini dipimpin oleh seorang komandan sebagai pemberi aba-aba tarian. Mula-mula formasi penari membentuk barisan berjajar panjang dan bila sudah saatnya maka komandan akan memberi aba-aba untuk membentuk formasi melingkar. Pada saat formasi ini kegiatan fatele akan diperagakan secara bergantian oleh penari.
Sepanjang pertunjukkan tarian ini, penari dan komandan meneriakkan kata-kata pembakar semangat secara bergantian.
Biasanya tari ini dimainkan sebagai tari penyambutan tamu khusus. Tarian ini dilakukan di lapangan terbuka dan cukup luas.
Tari moyo merupakan tari yang diperagakan oleh beberapa perempuan dengan memakai baju adat Nias. Tari moyo juga sering disebut dengan tari elang karena gerakannya yang menyerupai burung elang yang sedang terbang sambil mengepakkan sayap.
Saat ini, tari moyo umumnya dijadikan sebagai tarian untuk menyambut para tamu-tamu terhormat seperti penyambutan para pejabat, gubernur, menteri, presiden dan sebagainya, yang berkunjung ke daerah pulau Nias,
Tarian ini dilakukan dengan diiringi musik menggunakan alat musik tradisional Nias. Selain itu, juga diiringi dengan lantunan lagu yang dibawakan oleh pengiring vocal. Awalnya, irama musik dan lagu dimainkan dengan tempo lambat, lama kelamaan berlanjut semakin cepat.
Gerakan penari pun harus disesuaikan dengan irama musik dan lagu. Jika irama musik dan lagu lambat maka gerakan penari juga lambat, demikian juga bila irama musik dan lagu cepat maka gerakan penari pun dilakukan dengan cepat.
Gerakan tarian ini didominasi oleh gerakan tangan seperti sedang mengepakkan sayap, diikuti dengan gerakan kaki yang berjinjit.
Untuk menjadi penari maka harus mengikuti latihan khusus secara terus-menerus sampai gerakannya benar-benar dikuasai. Bahkan sebagian sekolah-sekolah di wilayah Nias sudah menjadikan tari ini sebagai salah satu kegiatan ekstrakurikuler yang terorganisir dalam sebuah wadah sanggar seni budaya. Pada kegiatan ini, siswi yang berminat akan dilatih untuk menjadi penari tari moyo.
Dengan cara ini, tari moyo akan tetap terjaga dan terwarisi secara turun temurun kepada generasi berikutnya.
Cerita Daerah
Cerita daerah yang cukup terkenal dan melegenda di daerah Nias yaitu Laowömaru.Laowömaru merupakan pria terkuat dan kebal karena ilmu hitam yang dimilikinya. Dia tinggal disebuah gua di sekitar pantai yang saat ini dikenal dengan pantai Laowömaru.
Cerita daerah lainnya yang cukup populer yaitu oyo ba susua, laosi ba buaya.
Selain itu, di Nias juga terdapat cerita daerah yang dikemas dengan bentuk menyerupai dongeng yang mengandung pesan-pesan dan nasehat-nasehat dalam kehidupan sehari-hari dinamakan dengan manö-manö.
Destinasi Wisata
Salah satu tempat wisata daerah Nias yang sangat disukai oleh para wisatawan yaitu Pantai Sorake. Pantai ini berada di daerah Nias Selatan. Pantai ini sangat terkenal, selain memiliki pantai yang sangat indah juga juga memiliki ombak yang sangat besar dan menantang.Tak jarang event dan lomba surfing tingkat internasional diselenggarakan disini. Tak ayal bahwa tempat ini merupakan incaran para surfer dari luar negeri yang berkunjung ke Indonesia.
Selain itu, destinasi wisata yang cukup familiar dan terkenal lainnya yaitu Hombo Batu atau Lompat Batu. Terletak di daerah Bawomataluo, Nias Selatan. Dalam terjemahan Indonesia, hombo artinya terbang/lompat dan batu/kara artinya batu. Singkatnya hombo batu berarti terbang/melompati sebuah batu. Atraksi ini dilakukan oleh laki-laki.
Tradisi hombo batu sudah ada sejak dulu dan diwariskan secara turun temurun di setiap keluarga dari ayah kepada semua anak laki-lakinya.
Awalnya, hombo batu ini merupakan tradisi yang lahir dari kebiasaan laki-laki Nias yang dilatih sebagai pejuang-pejuang perang. Laki-laki diharuskan memiliki karakter keras, kuat dan pemberani.
Untuk bisa melakukan atraksi hombo batu, anak laki-laki dari daerah Nias sudah mulai dilatih sejak umur 7 tahun dengan melompati tali atau bambu terlebih dahulu. Ukuran tingginya pun disesuaikan dengan bertambahnya usia si anak.
Bila sudah saatnya maka si anak diberikan kesempatan untuk melompati tumpukan batu berbentuk prisma tegak yang sudah disusun dengan tinggi kurang lebih 2 meter.
Keberhasilan melompati tumpukan batu tersebut menandakan bahwa si anak sudah menunjukkan sikap sebagai seorang laki-laki pemberani dan sudah mencapai tingkat kedewasaan sebagai keturunan pejuang Nias.
Hanya saja, tidak semua laki-laki dari daerah Nias sanggup melakukannya meskipun sudah berlatih sejak dari kecil.
Suku Nias mempercayai bahwa selain latihan sejak dari kecil, juga ada unsur magis dari roh leluhur sehingga seorang anak laki-laki berhasil melompati batu dengan sempurna.
Aturan yang tidak boleh dilanggar dalam atraksi ini adalah anggota tubuh seperti kaki, tangan atau anggota tubuh lainnya tidak boleh menyentuh sedikit pun bagian batu. Jika hal ini terjadi maka harus mengulangnya dari awal sampai semua anggota tubuh benar-benar melompati batu dan tidak mengenainya sedikit pun.
Bukan cuma itu saja daya tarik para wisatawan disana, terdapat juga tempat tinggal penduduk dengan bentuk rumah adat Nias yang sudah dibuat rapi dan tersusun sedemikian rupa. Jika berjalan hingga pertengahan tempat tinggal penduduk, terdapat sebuah rumah adat yang ukurannya sangat besar, Omo Sebua namanya.
Tempat ini sangat disukai untuk dijadikan sebagai latar berfoto.
Destinasi wisata lainnya yang cukup populer yaitu Bombo Aukhu, Pantai Berbunyi (Sifahandro), Pantai Tureloto, Kaliki.
Agama
Umunya kepercayaan/agama yang dianut oleh suku Nias yaitu agama kristen protestan, dan katolik. Tetapi sebagian yang tinggal di daerah perkotaan dan sekitar pesisir pantai menganut agama islam.
Suku Nias umumnya memiliki sikap toleransi yang tinggi antar umat beragama.
Suku Nias umumnya memiliki sikap toleransi yang tinggi antar umat beragama.
Mata Pencaharian
Mata pencaharian utama suku Nias yaitu petani karet dan sawah. Disekitar pantai, sebagian masyarakat bermata pencaharian sebagai nelayan.Beberapa mata pencaharian lain seperti pedagang, pengusaha, peternak, penjual ikan, penjual kelapa, pekerja bangunan, buruh dan lain sebagainya.
Pelabuhan dan Bandara
Untuk keluar masuk daerah pulau Nias, bisa dilakukan lewat transportasi laut dan udara.Hampir semua daerah diwilayah pulau Nias sudah memiliki pelabuhan, hanya saja yang lebih aktif dalam proses pengangkutan barang dan penumpang yaitu pelabuhan Gunungsitoli.
Sementara itu, bandara aktif yang ada di kepulauan Nias cuma ada dua yaitu bandara binaka dan bandara telo.
Bandara binaka merupakan satu-satunya bandara yang melayani penerbangan domestik diwilayah kepulauan Nias.
Orida Nias
Tahukah teman-teman kalau zaman dulu orang Nias pernah punya mata uang sendiri?? ya memang benar, dulu suku Nias pernah punya mata uang sendiri yang digunakan sebagai alat untuk transaksi jual beli.Gak percaya??
Sudah ada buktinya kok. Uang dari daerah Nias saat ini sudah disimpan baik-baik di Museum Uang Sumatera. Uang tersebut dikenal dengan nama Oeang Republik Indonesia Daerah Nias atau Orida Nias.
Bahkan mesin untuk mencetak uang saat itu masih utuh dan bertahan hingga sekarang. Sobat bisa menemuinya di Desa Onowaembo, Kota Gunungsitoli.
Bila ingin mengetahui lebih lanjut tentang Orida Nias, sobat bisa membacanya melalui Uang Nias Lama Ada Di Museum Uang Sumatera.
Kesimpulan:
Ono Niha - Nias merupakan salah satu suku di Indonesia yang memiliki sejumlah keunikan dan kelebihan. Keadaan alam dengan objek wisata yang menarik nan indah menjadikannya sebagai daerah yang cukup diperhitungkan dikancah nasional dan internasional. Ditambah dengan tradisi, budaya dan adat istiadat yang masih bertahan hingga sekarang menambah keunikan tersendiri bila dibandingkan dengan suku lainnya di Indonesia.Saya menyadari bahwa artikel ini masih jauh dari kesempurnaan. Untuk itu, saya tetap melakukan pembaharuan demi informasi yang akurat tentang tradisi dan budaya Ono Niha - Nias. Semoga bermanfaat, Ya'ahowu.










53 comments for "Sekilas Mengenal Tradisi dan Budaya Ono Niha - Nias"
selama ini taunya dari nama teman sekelas. Misalnya zega, zebua, zai, dan hulu.
Padahal tulisannya sekilas, isinya detail :)
Senang ya ada yang menulis tentang budaya daerah gini, agar anak-anak milenial nggak cuman kenal budaya Korea aja *eh :D
Lebih lengkap wikipidea lah mbak, ini mah masih yang umum-umumnya saja.
Benar mbak, dengan ulasan seperti ini mudah-mudahan anak-anak bisa mengenali dan tidak melupakan budaya daerah sendiri, khususnya ni bagi anak-anak milenial suku Nias - Ono Niha.
Indonesia kaya akan keberagaman budaya
Semua tahap harus dilakukan mbak, tdk boleh terlewatkan, hanya saja karena waktu dan budget, pada pelaksanaannya beberapa tahapan kadang dilakukan dengan menggabungkannya dalam 1 pertemuan saja.
Heheheheh
Masih dalam proses pengumpulan informasi mbak, ntr kalau sudah lengkap pasti saya posting,,,,
Ternyata budayanya kaya sekali, mulai dr pakaian adat, acara pernikahan, tradisi2nya alat2nya, bahkan punya uang. Btw kyknya kulinernya blm dibahs nih :D
Keluargamulyana
Saya sempat masukkan sebagai gambar pendukung mbak cuma loadingnya agak lama, jadi saya copot kembali deh.
Bulan september ini ada juga ajang wisata bahari: Sail Nias 2019, nanti akan ada berbagai kegiatan dan pameran budaya-budaya Nias.
Amin, datang ja bulan september ini mas, kebetulan ada gelaran Sail Nias 2019.
Jangan lupa berbagi info y mas, biar budaya Nias semakin dikenal.
www.ngopisetengahgelas.com
Dari artikel ini saya jadi banyak tahu. Terus menulis menyebar ilmu ya Mas, terima kasih sharingnya.
Iya mbak, sama-sama
Makasih atas kunjungannya
Ide yang sangat baik mbak, pengetahuan akan budaya dan adat istiadat daerah masing-masing perlu dilestarikan
Tapi tidak lama sih tinggal disana. Aku suka banget melihat pantainya yang asri dan bersih.
Hahahaha
Bisa jadi mbak,,,
*just kidding
Senang nya jadi tambah pengetahuan lagi tentang saudara saudara Nias .
Berbeda beda suku , Beragam budaya di Indonesia kita adalah saudara. Benar gak 😁
Keberagaman suku, budaya, bahasa, agama, dll adalah kekayaan negara kita dan bukanlah sebagai pemisah, akan tetapi keberagaman itu sebagai pemersatu seluruh rakyat Indonesia.
Salam blogger Ono Niha - Nias,,,
Ya'ahowu!!!
Btw Bang Eman saya mau minta Contact, yg bisa dihubungi.
saya pemilik Blog "Celoteh Praja" https://celotehlestarius.blogspot.com/
ada sedikit yang mau saya bicarakan secara pribadi. Trims
Hehehehe
Salam kenal
Ya'ahowu
mengenal, mengerti, dan akn di kenang.
Berkomentarlah sesuai topik artikel dan jangan menyertakan LINK HIDUP