Pengertian Pendidikan dan Pendidikan Karakter Beserta Definisi, Tujuan dan Fungsinya
Pendidikan sangat erat manfaatnya dalam kehidupan manusia. Salah satunya sebagai media yang berfungsi menjadikan manusia lebih baik dari sebelumnya. Manfaat lainnya adalah untuk memanusiakan manusia.
Apa yang dimaksud dengan pendidikan? Apa pengertian pendidikan dan apa tujuan pendidikan? Apa tujuan pendidikan secara umum? Semua jawaban dari pertanyaan ini akan diulas melalui artikel ini. Ulasan ini dirangkum dari berbagai sumber dengan maksud agar teman-teman semua terbantu dalam memahami pengertian dari pendidikan, defenisi, tujuan dan fungsi. Turut disertai juga ulasan lengkap mengenai pendidikan karakter.
Langsung saja simaklah penjelasan berikut. Silahkan lihat apa saja materi yang dibahas melalui daftar isi berikut.
Pendidikan
Salah satu sudut pandang yang bisa dianggap sebagai penunjang kesuksesan seseorang adalah pendidikan. Melalui pendidikan maka seseorang bisa mendapatkan ilmu pengetahuan yang bisa menunjang kesuksesan karirnya kedepan.
Walaupun begitu, orang yang belum sekolah atau hanya lulusan SMA saja maka bukan berarti tidak bisa sukses. Demikian sebaliknya orang yang lulusan sarjana tidak selamanya akan sukses dikemudian hari. Kenapa hal tersebut bisa terjadi? karena kesuksesan sangat tergantung pada usaha individu masing-masing.
Sebelum membahas lebih mendalam tentang pendidikan, mari kita bahas dulu mengenai pengertiannya.
Pengertian Pendidikan Secara Umum
Secara umum, pengertian pendidikan adalah suatu proses pembelajaran pengetahuan, keterampilan, dan kebiasaan sekumpulan manusia yang diwariskan dari satu generasi ke generasi selanjutnya melalui pengajaran, pelatihan, dan penelitian.
Ada juga yang mengatakan definisi pendidikan adalah suatu usaha sadar yang dilakukan secara sistematis dalam mewujudkan suasana belajar-mengajar agar para peserta didik dapat mengembangkan potensi dirinya. Dengan adanya pendidikan maka seseorang dapat memiliki kecerdasan, akhlak mulia, kepribadian, kekuatan spiritual, dan keterampilan yang bermanfaat bagi diri sendiri dan masyarakat.
Dalam bahasa Inggris, kata pendidikan disebut dengan Education dimana secara etimologis kata tersebut berasal dari bahasa Latin, yaitu Eductum. Kata Eductum terdiri dari dua kata, yaitu E yang artinya perkembangan dari dalam keluar, dan Duco yang artinya sedang berkembang. Sehingga secara etimologis arti pendidikan adalah proses mengembangkan kemampuan diri sendiri dan kekuatan individu.
Jadi, singkatnya yang dimaksud dengan pendidikan adalah suatu proses pembelajaran kepada peserta didik agar memiliki pemahaman terhadap sesuatu dan membuatnya menjadi seorang manusia yang kritis dalam berpikir.
Pengertian Pendidikan Menurut Para Ahli Dunia
Berikut pandangan para ahli dunia tentang pengertian pendidikan.
1. Prof. Dr. John Dewey
Menurut Prof. Dr. John Dewey, pengertian pendidikan adalah suatu proses pengalaman. Karena kehidupan merupakan pertumbuhan, maka pendidikan berarti membantu pertumbuhan batin manusia tanpa dibatasi oleh usia. Proses pertumbuhan adalah proses penyesuaian pada setiap fase dan menambah kecakapan dalam perkembangan seseorang melalui pendidikan.
2. Martinus Jan Langeveld
Menurut M.J. Langeveld, pengertian pendidikan merupakan upaya dalam membimbing manusia yang belum dewasa kearah kedewasaan. Pendidikan adalah suatu usaha dalam menolong anak untuk melakukan tugas-tugas hidupnya, agar mandiri dan bertanggung jawab secara susila. Pendidikan juga diartikan sebagai usaha untuk mencapai penentuan diri dan tanggung jawab.
3. Prof. Herman H. Horn
Prof. Herman H. Horn berpendapat bahwa pendidikan adalah suatu proses dari penyesuaian lebih tinggi bagi makhluk yang telah berkembang secara fisik dan mental yang bebas dan sadar kepada Tuhan seperti termanifestasikan dalam alam sekitar, intelektual, emosional dan kemauan dari manusia.
4. Stella van Petten Henderson
Menurut Stella Van Petten Henderson, arti pendidikan adalah kombinasi pertumbuhan, perkembangan diri dan warisan sosial.
5. Kohnstamm dan Gunning
Menurut Kohnstamm dan Gunning, pengertian pendidikan merupakan suatu pembentukan hati nurani manusia, yakni pendidikan ialah suatu proses pembentukan dan penentuan diri secara etis yang sesuai dengan hati nurani.
6. Horne
Horne menyatakan bahwa pendidikan adalah proses yang dilakukan secara terus menerus dari penyesuaian yang lebih tinggi bagi manusia yang telah berkembang secara fisik dan mentalnya.
7. Frederick J. Mc Donald
Frederick J. Mc Donald mengemukakan pendapatnya bahwa pendidikan ialah suatu proses yang arah tujuannya adalah merubah tabiat manusia atau peserta didik.
8. Carter V. Good
Carter V. Good mengartikan pendidikan sebagai suatu proses perkembangan kecakapan seseorang dalam bentuk sikap dan prilaku yang berlaku dalam masyarakat. Proses dimana seseorang dipengaruhi oleh lingkungan yang terpimpin khususnya didalam lingkungan sekolah sehingga dapat mencapai kecakapan sosial dan dapat mengembangkan kepribadiannya.
9. Abdullah Ibnu Al-Muqafah
Menurut Abdullah Ibnu Al-Muqafah, pendidikan adalah kebutuhan untuk mendapatkan sesuatu yang akan menguatkan dan mencapai peradapan yang tinggi atau kesempurnaan yang merupakan santapan akan serta rohaninya
10. Plato
Plato mengemukakan bahwa pendidikan adalah sesuatu yang dapat membantu perkembangan individu dari jasmani dan akal dengan sesuatu yang dapat memungkinkan tercapainya sebuah kesempurnaan
11. Mary McLeod Bethune
Menurut Mary McLeod Bethune, pendidikan dalam arti sempit adalah suatu perbuatan atau proses untuk memperoleh sebuah pengetahuan.
12. Edgar Dale
Menurut Edgar Dale, pendidikan adalah suatu usaha yang dilakukan dengan sadar oleh keluarga, masyarakat atau pemerintah melalui bimbingan, pengajaran, pembelajaran dan pelatihan yang berlangsung, baik dilakukan disekolah maupu diluar sekolah sepanjang hidup untuk mempersiapkan peseta didik agar dapat menjalankan perannya dalam lingkungan untuk masa yang akan datang.
13. Thedore Brameld
Menurut Thedore Brameld, pendidikan adalah suatu proses yang lebih luas dari pada proses berlangsungnya dalam sekolah. Pendidikan adalah suatu kegiatan sosial yang memungkinkan masyarakat tetap ada dan terus berkembang.
14. An-Nahlawi
Menurut An-Nahlawi, pendidikan dalam bahsa Arab adalah tarbiyah, arti tarbiyah atau pendidikan ialah segala usaha dalam megurus, mengatur dan memperbaiki segala sesuatu atau potensi yang sudah ada dari lahir agar tumbuh dan berkembang menjadi lebih dewasa.
15. Ibnu Sina
Menurut Ibnu Sina, pendidikan atau pembelajaran berkaitan dengan seluruh aspek yang ada pada diri manusia, mulai dari fisik, mental ataupun moral. Pendidikan dilarang mengabaikan perkembangan fisik dan apapun yang memiliki pengaruh terhadap perkembangan fisik seperti olahraga, meinuman, makanan, kebersihan dan tidur. Jadi pendidikan tidak hanya memperhatikan aspek moralnya saja namun juga membentuk individu yang menyeluruh termasuk jiwa, karakter dan fikiran.
16. Godfrey Thomson
Menurut Godfrey Thomson, pendidikan adalah pengaruh lingkungan atas individu untuk menghsilkan perubahan tepat di dalam kebiasaan atau adat tingkah laku, pikiran dan perasannya.
17. Paulo Freire
Menurut Paulo Freire, pengertian pendidikan adalah jalan menuju pembebasan yang permanen dan terdiri dari dua tahap. Tahap pertama adalah masa dimana manusia menjadi sadar akan pembebasan mereka, damana melalui praksis mengubah keadaan itu. Tahap kedua dibangun atas tahap yang pertama, dan merupakan sebuah proses tindakan kultural yang membebaskan.
18. Girex B
Menurut Girex B, pendidikan adalah berbagai upaya dan usaha yang dilakukan orang dewasa untuk mendidik nalar peserta didik dan mengatur moral mereka.
19. J.J. Rousseau
J.J. Rousseau menjelaskan bahwa pendidikan merupakan memberikan kita pembekalan yang tidak ada pada masa kanakkanak, akan tetapi kita membutuhkanya pada masa dewasa.
Pengertian Pendidikan Menurut Para Ahli Indonesia
Agar lebih memahami apa arti pendidikan, kita dapat merujuk pada pendapat beberapa ahli berikut ini:
1. Ki Hajar Dewantara
Menurut Ki Hajar Dewantara, pengertian pendidikan adalah suatu tuntutan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak. Maksudnya ialah bahwa pendidikan menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada peserta didik agar sebagai manusia dan anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan hidup yang setinggi-tingginya
2. Prof. Dr. Dedi Supriadi
Pengertian pendidikan adalah salah satu fungsi yang harus dapat dilakukan dengan sebaik-baiknya oleh keluarga dan masyarakat secara terpadu dengan berbagai institusi yang memang diadakan dengan sengaja untuk mengembangkan fungsi pendidikan
3. Prof. Zaharai Indris, M.A
Pendidikan adalah serangkaian kegiatan berkomunikasi yang bertujuan supaya manusia dewasa atau pendidik dengan peserta didik saling bertatap muka atau dengan menggunakanmedia dalam rangka memberikan bantuan pada perkembangan anak dengan utuh.
4. Ahmad D. Marimba
Pengertian pendidikan adalah pimpinan atau bimbingan secara sadar oleh pihak pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rihani anak didik menuju terbentuknya kepribadian yang utama
5. Drs. Wasty Soemanto. M.Pd
Pendidikan adalah proses pembelajaran yang menghasilkan pengalaman yang memberikan kesejahteraan pribadi, baik lahir maupun bathiniah.
6. Drs. M. Ngailim Purwanto
Ilmu pendidikan ialah ilmu pengetahuan yang menyelidiki, merenungkan tentang gejala-gejala perbuatan mendidik.
7. Prof. Dr. Iman Barnadib di fakultas filsafat UGM
Pendidikan adalah usaha sadar dan sistematis untuk mencapai taraf hidup atau kemajuan yang lebih baik
8. Dr. Sutari Imam Bernadib
Ilmu pendidikan adalah mempelajari suasana dan proses-proses pendidikan. Proses yang dimaksud adalah cara-cara yang dilakukan untuk memperoleh pendidikan secara sistematis dan bertahap.
9. Prof. H. Mahmud Yunus
Pengertian pendidikan ialah suatu usaha yang dengan sengaja dipilih untuk mempengaruhi dan membantu anak yang bertujuan untuk meningkatkan ilmu pengetahuan, jasmani dan akhlak sehingga secara perlahan bisa mengantarkan anak kepada tujuan dan cita-citanya yang paling tinggi. Agar memperoleh kehidupan yang bahagia dan apa yang dilakukanya dapat bermanfaat bagi dirinya sendiri, masyarakat, bangsa, negara dan agamanya.
10. S.A. Bratanata dkk
Pengertian pendidikan adalah usaha yang sengaja diadakan baik langsung maupun dengan cara yang tidak langsung untuk membantu anak dalam perkembangannya mencapai kedewasaan.
11. Driyarkara
Definisi pendidikan diartikan sebagai suatu upaya dalam memanusiakan manusia muda atau pengangkatan manusia muda ke taraf yang insani.
12. Darmaningtyas
Pendidikan adalah pendidikan sebagai usaha dasar dan sistematis untuk mencapai taraf hidup dan kemajuan yang lebih baik.
13. H. Fuad Ihsan
H. Fuad Ihsan menjelaskan bahwa dalam pengertian yang sederhana dan umum pendidikan adalah sebagai usaha manusia untuk menumbuhkan dan mengembangkan potensi-potensi pembawaan baik jasmani maupun rohani sesuai dengan nilai-nilai yang ada didalam masyarakat dan kebudayaan.
14. Oemar Hamalik
Oemar Hamalik menjelaskan bahwa pendidikan adalah suatu proses dalam rangka mempengaruhi siswa agar dapat menyesuaikan diri sebaik mungkin terhadap lingkungan dan dengan demikian akan menimbulkan perubahan dalam dirinya yang memungkinkannya untuk berfungsi secara kuat dalam kehidupan masyarakat.
Pengertian Pendidikan Menurut Kamus dan Lembaga
1. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)
Pengertian pendidikan yaitu sebuah proses pembelajaran bagi setiap individu untuk mencapai pengetahuan dan pemahaman yang lebih tinggi mengenai obyek tertentu dan spesifik. Pengetahuan yang diperoleh secara formal tersebut berakibat pada setiap individu yaitu memiliki pola pikir, perilaku dan akhlak yang sesuai dengan pendidikan yang diperolehnya.
2. UU No. 2 Tahun 1989
Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan atau latihan bagi peranannya di masa yang akan datang.
3. GBHN
Pendidikan adalah usaha sadar untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan di dalam dan diluar sekolah dan berlangsung seumur hidup.
4. UU No. 20 tahun 2003
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spritual keagamaan,pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan akhlak bangsa dan negara.
5. UNESCO
“Education is now engaged is preparinment for a tife Society which does not yet exist” atau bahwa pendidikan itu sekarang adalah untuk mempersiapkan manusia bagi suatu tipe masyarakat yang masih belum ada. Konsep system pendidikan mungkin saja berubah sesuai dengan perkembangan masyarakat dan pengalihan nilai-nilai kebudayaan (transfer of culture value). Konsep pendidikan saat ini tidak dapat dilepaskan dari pendidikan yang harus sesuai dengan tuntutan kebutuhan pendidikan masa lalu,sekarang,dan masa datang.
6. Wikipedia
Pengertian pendidikan adalah pembelajaran pengetahuan, keterampilan, dan kebiasaan sekelompok orang yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui pengajaran, pelatihan, atau penelitian.
7. Brainly
pendidikan adalah proses pembelajaran seseorang mulai dari SD, SMP, SMA, perguruan tinggi dan lain lain. Pendidikan bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, kreativitas, dan kemampuan melalui pengajaran yg diberikan oleh guru.
8. Ensiklopedi Pendidikan Indonesia
Menjelaskan mengenai pendidikan, yaitu sebagai proses membimbing manusia atau anak didik dari kegelapan, ketidaktahuan, kebodohan, dan kecerdasan pengetahuan.
9. UU SISDIKNAS No.20 tahun 2003
Pendidikan merupakan suatu usaha yang dilakukan secara sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mampu mengembangkan potensi yang ada didalam dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, kepribadian yang baik, pengendalian diri, berakhlak mulia, kecerdasan,dan keterampilan yang diperlukan oleh dirinya dan masyarakat.
Berdasarkan pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk memberikan bimbingan atau pertolongan dalam mengembangkan potensi jasmani dan rohani yang diberikan oleh orang dewasa kepada anak untuk mencapai kedewasaanya serta mencapai tujuan agar anak mampu melaksanakan tugas hidupnya secara mandiri.
Pengertian di atas mengindikasikan betapa peranan pendidikan sangat besar dalam mewujudkan manusia yang utuh dan mandiri serta menjadi manusia yang mulia dan bermanfaat bagi lingkungannya. Dengan pendidikan, manusia akan paham bahwa dirinya itu sebagai makhluk yang dikaruniai kelebihan dibandingkan dengan makhluk lainnya. Bagi negara, pendidikan memberi kontribusi yang sangat besar terhadap kemajuan suatu bangsa dan merupakan wahana dalam menerjemahkan pesan-pesan konstitusi serta membangun watak bangsa (nation character building).
Pendidikan Dalam Pandangan Ontologi
Tiap sudut pandang dalam perspektif yang berbeda maka menghasilkan pengetahuan yang berbeda pula. Demikian pula dengan pendidikan. Dalam pandangan ontologi pendidikan adalah suatu bentuk lembaga yang menyelenggarakan atau menjadi tempat/wadah terjadinya proses pendidikan. Sudut pandangnya terfokus pada eksistensi lembaga itu sendiri bukan proses yang terjadi didalamnya.
Menurut pandangan ontologi, apapun namanya entah tumbuhan, hewan atau manusia selama ia melakukan atau mengalami perubahan dari satu kondisi (umumnya dianggap tidak atau kurang baik) menuju ke kondisi lain (dianggap/dipandang lebih baik) maka ia bisa disebut sebagai pendidikan. Sifat konsep yang dikandung lebih meluas. Akibatnya, dalam pandangan ontologi konsep pendidikan menjadi tak terbatas. Semua benda atau konsep itu sendiri bisa disebut pendidikan.
Dari sudut pandang ontologi lahir konsep-konsep seperti: pendidikan di dalam diri manusia, alam semesta yang mengalami pendidikan, pendidikan di dalam masyarakat, politik pendidikan, pendidikan politik, pendidikan trans-dimensi realitas, dan seterusnya. Sudut pandangnya hampir selalu sama menfokuskan pada aspek benda yang mengalami perubahan. Terkait unsur tujuan, nilai fungsi, atau arah (aksiologi) dari pendidikan itu sendiri tidak berguna dan tidak diperhatikan sebagai unsur penentu untuk dapat disebut pendidikan. Contohnya muncul istilah pendidikan kejahatan. Dalam pandangan aksiologi tidak ada dan tidak dikenal istilah mendidik untuk berbuat jahat. Yang disebut mendidik itu selalu baik dan tidak mungkin buruk apalagi jahat.
Bagi ontologi beda. Karena Ontologi merupakan ilmu yang mempelajari yang ada (tapi kadang tidak diikuti dengan yang umum), maka konsep pendidikan dipandang menurut keberadaannya sebagai suatu kenyataan atau pemikiran yang muncul atau nampak. Konsepnya menjadi lebih sederhana namun meluas. Terbebas dari nilai-nilai subjektif. Sebab ini pula yang menempatkan ontologi sebagai filsafat ‘pertama’. Pandangan paling dasar ontologi terhadap pendidikan adalah wujud “Lembaga”, karena wujud yang ‘ada dan nyata’ dari pendidikan adalah lembaga.
Pendidikan Dalam Pandangan Epistemologi
Menurut konsepnya, Epistemologi adalah ilmu yang mempelajari asal-usul, proses, dan hasil bentukan pengetahuan yang secara umum menyangkut aspek formal dan materilnya. Dari konsep tersebut bisa dikatakan bahwa epistemologi memandang pendidikan sebagai suatu “Proses”. Karena bila ditelusuri menurut akar ilmu maupun konsep ontologis yang melekat dalam istilah pendidikan, konsep pendidikan menunjukkan suatu proses belajar-mengajar.
Walaupun dalam pandangan ontologi sendiri pendidikan dimaknai sebagai suatu ‘lembaga’, tetapi yang paling melekat dan khas dari lembaga tersebut menurut penelusuran epistemologi justru menunjukkan konsep suatu ‘proses’. Dan proses ini dalam pandangan epistemologi pasti memiliki nilai-nilai aksiologi yang positif (baik). Di sini salah satu letak perbedaan konsep ontologi dan epistemologi. Epistemologi mempelajari suatu objek sejak awal hingga akhir, dari asal-usul pengetahuan sampai kemana bentukan pengetahuan tersebut bergerak. Sedangkan pendidikan sebagai salah satu objek yang ditelaah epistemologi menurut penelusuran asal-usul sampai pada konsep aksiologinya menunjukkan bahwa pendidikan adalah suatu ‘proses’ dari yang tidak atau kurang baik menuju kearah yang lebih baik.
Epistemologi tidak bisa memutar-balikan suatu konsep seperti halnya ontologi. Bagi epistemologi, pengetahuan itu bersifat pasti dan tetap. Oleh sebab itu dalam pandangan epistemologi pengetahuan itu harus jelas asal-usulnya, prosesnya, hasil bentukan dan arah pergerakan pengetahuan itu sendiri.
Dari sini kemudian telaah epistemologi ikut melebar menjangkau wilayah-wilayah keilmuan lain seiring meluasnya konsep ontologi pendidikan. Wajar bila dalam perkembangannya di dalam telaah epistemologi terjadi reaksi inter dan multi disipliner ilmu. Secara umum reaksi ini muncul disebabkan oleh pergerakan dari konsep ontologi bukan dari dalam telaah epistemologi. Telaah epistemologi dalam banyak hal cenderung stabil, tetap dan lebih bersifat pasti.
Telaah epistemologi pendidikan yang menyangkut objek formal dan materialnya memang mengikuti pergerakan konsep ontologi, tetapi reaksi mengikuti pergerakan konsep ontologi tidak bersifat mutlak. Epistemologi mempunyai standar dan ukuran sendiri yang berbeda dengan ontologi dalam telaah ilmu. Jika telaah ontologi dikatakan bebas dan meluas, maka sebaliknya dengan telaah epistemologi. Telaah epistemologi harus mengikuti kaidah-kaidah dan prosedur sistematisasi ilmiah. Oleh sebab itu menjadi lebih khusus.
Pendidikan Dalam Pandangan Aksiologi
Aksiologi adalah ilmu yang mempelajari segala sesuatu yang berhubungan dengan tujuan, hasil, arah atau nilai guna suatu proses. Dari sudut pandang aksiologi, pendidikan dinilai menurut keberadaannya dalam menghasilkan atau menciptakan sesuatu. Oleh sebab itu dalam pandangan aksiologi pendidikan adalah suatu “alat”. Karena pendidikan dapat digunakan untuk menciptakan atau menghasilkan situasi atau kondisi yang lebih baik dari sebelumnya. Pendidikan mampu memproses manusia dari kondisi yang tidak atau kurang baik menuju ke kondisi yang lebih baik. Guna pendidikan dalam pandangan aksiologi di sini, yaitu sebagai ‘alat pencipta’ atau ‘pemerbaiki’.
Aksiologi tidak terlalu fokus pada cara-cara, mekanisme atau pergerakan terjadinya proses pendidikan seperti yang ada dalam pendangan epistemologi, atau wujud yang nyata ada dari pendidikan (ontologi), tetapi menekankan pada kemampuan mencipta dan menghasilkan pendidikan itu sendiri.
Bagi aksiologi, pendidikan seperti sebuah mesin. Input dimasukkan, keluar sudah menjadi produk siap pakai. Penilaian pendidikan sebagai suatu ‘alat’ ini merupakan kecenderungan pokok yang menjadi entitas (sesuatu yang melekat dalam diri) aksiologi pada pendidikan, sama halnya seperti pandangan pendidikan sebagai suatu ‘lembaga’ menurut ontologi dan pendidikan sebagai suatu ‘proses’ dalam pandangan epistemologi. Dan memang seperti itu cara pandang ketiganya, sekaligus keunikan yang dimiliki dari objek yang disebut pendidikan.
Cara pandang aksiologi menurut versinya sendiri terkadang mengabaikan nilai-nilai normatif, sama seperti yang lain. Hal ini disebabkan aksiologi tidak lagi digunakan sebagai tujuan atau arah yang ingin dicapai dalam pendidikan, tetapi sebagai sudut pandang. Karena fungsinya sebagai sudut pandang; aksiologi jadi menempatkan posisinya diluar sistem akibatnya menjadi tidak objektif lagi seperti ketika ia menempati posisinya dalam struktur ilmu.
Dalam pandangan aksiologi, pendidikan hanyalah suatu alat yang dapat digunakan untuk menciptakan atau menghasilkan situasi atau kondisi sesuai dengan yang diharapkan. Konsep ini adalah yang paling idealis dalam pandangan aksiologi. Tetapi jika disederhanakan lagi dikembalikan pada akar ilmunya menjadi berbeda. Konsepnya menjadi; pendidikan adalah alat untuk melakukan perubahan. Sama seperti ontologi, sederhana dan meluas.
Tujuan Pendidikan
Secara menyeluruh, tujuan pendidikan adalah baik. Ada proses dimana para pendidik sengaja melakukan kegiatan belajar mengajar untuk meningkatkan potensi anak baik itu secara kognitif, psikomotorik dan juga dari segi afektifnya. Tidak ada hal negatif yang diharapkan dari sebuah pendidikan. Muara dari berlangsungnya proses pengajaran adalah agar nantinya peserta didik tumbuh menjadi pribadi yang unggul dan berguna.
Setiap pengajar memiliki pendapat tentang apa tujuan inti pendidikan seharusnya, tidak hanya di kelas mereka sendiri tetapi juga di sekolah pada umumnya. Banyak masalah terjadi ketika perbedaan pendapat tentang tujuan pendidikan bertabrakan. Penting untuk mengetahui bahwa orang lain, termasuk banyak rekan kerja, administrator, dan orang tua siswa Anda mungkin memiliki sudut pandang yang berbeda mengenai pendidikan apa yang seharusnya.
Secara umum, tujuan pendidikan adalah untuk mencerdaskan dan mengembangkan potensi di dalam diri para peserta didik. Dengan pertumbuhan kecerdasan dan potensi diri maka setiap anak bisa memiliki ilmu pengetahuan, kreativitas, sehat jasmani dan rohani, kepribadian yang baik, mandiri, dan menjadi anggota masyarakat yang bertanggungjawab.
Tujuan pendidikan juga disebutkan di dalam Undang-Undang Republik Indonesia, diantaranya:
UU No. 2 Tahun 1985
Tujuan pendidikan menurut UU No. 2 Tahun 1985 adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia yang seutuhnya, yaitu bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, memiliki pengetahuan, sehat jasmani dan rohani, memiliki budi pekerti luhur, mandiri, kepribadian yang mantap, dan bertanggungjawab terhadap bangsa.
UU. No. 20 Tahun 2003
Menurut UU. No.20 Tahun 2003 pasal 3 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, tujuan pendidikan nasional adalah untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
MPRS No. 2 Tahun 1960
Menurut MPRS No. 2 Tahun 1960, tujuan pendidikan adalah membentuk manusia yang berjiwa Pancasilais sejati berdasarkan ketentuan-ketentuan yang dikehendaki oleh pembukaan UUD 1945 dan isi UUD 945.
Berikut tujuan pendidikan secara umum, yaitu
1. Memperoleh Pengetahuan
Membina siswa dengan pengetahuan untuk bertahan adalah keyakinan kuno. Gagasan bahwa sekolah perlu memberi siswa pengetahuan yang mereka butuhkan untuk menjadi orang dewasa yang fungsional dalam kehidupan sehari-hari mereka. Mereka perlu tahu cara membaca, menulis, dan melakukan aritmatika. Ini adalah topik inti yang membentuk fondasi pendidikan siswa.
2. Mendapatkan Keterampilan tentang Subjek yang Diajarkan
Tujuan pendidikan bagi beberapa guru adalah untuk memberikan pengetahuan tentang materi pelajaran yang mereka ajarkan tanpa banyak memikirkan kelas lain. Meskipun penting bagi siswa untuk memiliki pemahaman yang kuat tentang setiap mata pelajaran, ini kadang-kadang bisa menjadi masalah. Ketika dibawa ke ekstrem, guru-guru ini fokus pada materi pelajaran mereka sendiri sebagai lebih penting daripada apa yang dipelajari siswa di kelas lain. Sebagai contoh, guru yang tidak mau mengkompromikan materi pelajaran mereka sendiri untuk kebaikan siswa dapat menyebabkan masalah bagi sekolah dengan tidak terbuka untuk kegiatan lintas-kurikuler.
3. Menciptakan Individu Bijaksana
Keinginan untuk menciptakan orang dewasa yang bijaksana mungkin dianggap kepercayaan kuno lainnya. Namun, ini dipegang oleh banyak individu, terutama dalam komunitas yang lebih besar. Siswa suatu hari nanti akan menjadi bagian dari komunitas dan membutuhkan keterampilan untuk eksis dalam masyarakat itu sebagai warga negara yang bijaksana. Misalnya, mereka harus dapat memberikan suara dalam pemilihan presiden.
4. Menumbuhkan Harga Diri dan Keyakinan
Sementara gerakan harga diri sering diejek, kami ingin siswa kami merasa percaya diri tentang kemampuan belajar mereka. Dengan cara ini, mereka tidak hanya memiliki pemahaman yang kuat tentang setiap subjek tetapi juga kepercayaan diri untuk menerapkan pengetahuan itu dalam kehidupan sehari-hari. Sangat penting untuk memelihara keseimbangan yang kuat antara mendorong harga diri yang baik dan mencapai tujuan yang tidak realistis.
5. Belajar Tentang “Cara Belajar”
Belajar cara belajar adalah salah satu elemen kunci dari pendidikan. Sekolah perlu mengajari siswa cara menemukan informasi yang akan mereka butuhkan begitu mereka meninggalkan sekolah. Oleh karena itu penting bagi keberhasilan di masa depan bahwa siswa memahami bagaimana menemukan jawaban untuk setiap pertanyaan dan masalah yang mungkin timbul.
6. Kebiasaan Dan Etos Kerja
Banyak pelajaran yang diajarkan sekolah diperlukan untuk berhasil dalam kehidupan masa depan siswa mereka. Sebagai orang dewasa, mereka harus dapat bekerja tepat waktu, berpakaian dan berperilaku sesuai, dan menyelesaikan pekerjaan mereka tepat waktu. Pelajaran ini diperkuat setiap hari di sekolah-sekolah di seluruh negara.
7. Mempelajari Cara Bertahan Hidup
Akhirnya, beberapa individu melihat sekolah dengan cara yang lebih holistik. Siswa tidak hanya belajar informasi dari mata pelajaran masing-masing, tetapi mereka juga belajar pelajaran hidup di dalam dan di luar kelas. Etiket kerja yang tepat harus diperkuat di ruang kelas, siswa perlu belajar bagaimana berurusan dengan orang lain secara kooperatif, dan mereka harus belajar cara mendapatkan informasi yang mungkin mereka butuhkan di masa depan.
Salah satu hal yang menurut banyak pemimpin bisnis diperlukan untuk pekerja di masa depan adalah kemampuan untuk bekerja sebagai bagian dari tim dan menyelesaikan masalah.
Fungsi Pendidikan
Secara umum, fungsi pendidikan adalah untuk mengembangkan kemampuan, membentuk watak, kepribadian, agar peserta didik menjadi pribadi yang bermartabat.
Menurut Horton dan Hunt, lembaga pendidikan dan kaitannya dengan fungsi pendidikan adalah sebagai berikut:
- Mempersiapkan setiap anggota masyarakat agar dapat mencari nafkah sendiri.
- Membangun mengembangkan minat dan bakat seseorang demi kepuasan pribadi dan kepentingan masyarakat umum.
- Membantu melestarikan kebudayaan yang ada di masyarakat.
- Menanamkan keterampilan yang dibutuhkan dalam keikutsertaan dalam demokrasi.
Sedangkan menurut David Popenoe, fungsi pendidikan adalah:
- Untuk mentransfer atau pemindahan kebudayaan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
- Memilih dan mendidik manusia tentang peranan sosial.
- Memastikan terjadinya integrasi sosial di masyarakat.
- Lembaga pendidikan mengajarkan corak kepribadian.
- Menjadi sumber-sumber inovasi sosial di masyarakat.
Selain beberapa fungsi pendidikan, secara umum pendidikan memiliki fungsi yang bisa dilihat dari berbagai sudut pandang seperti:
1. Fungsi pendidikan terhadap individu
- Pengembangan potensi lahir – Pendidikan membantu anak untuk mengembangkan potensi bawaan sejak lahir yang menyediakan ruang untuk berkembang.
- Memodifikasi perilaku- Pendidikan membantu memodifikasi perilaku masa lalu melalui pembelajaran dan melalui berbagai lembaga pendidikan.
- Pengembangan menyeluruh – Pendidikan bertujuan untuk pengembangan menyeluruh fisik-anak, mental, sosial, emosional, dan spiritual.
- Mempersiapkan masa depan- Setelah menyelesaikan pendidikan, anak dapat memperoleh penghidupan dengan mendapatkan pendidikan yang layak, yang memiliki produktivitas. Pendidikan harus diberikan sesuai dengan minat anak itu sendiri.
- Mengembangkan kepribadian – Seluruh kepribadian anak dikembangkan secara fisik, intelektual, moral, sosial, estetis dan spiritual. Ia dikenal di masyarakat.
- Membantu penyesuaian – Manusia berbeda dari binatang. Manusia memiliki daya nalar dan daya pikir. Manusia mencoba yang terbaik untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya sendiri melalui pendidikan.
2. Fungsi pendidikan terhadap masyarakat
Perubahan dan kontrol sosial:
Masyarakat tidak pernah stasiun. Ini progresif dan dinamis. Anak itu hidup dalam masyarakat. Ini adalah lingkungan sosial tempat kepribadian anak dapat dikembangkan. Tradisi lama, adat istiadat dilestarikan dan ditransmisikan dengan situasi, yang selalu berubah. Kita seharusnya tidak berpikir atau percaya pada kepercayaan buta, yang merupakan hambatan bagi perkembangan kita. Pendidikan membantu berjalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Rekonstruksi pengalaman:
Pendidikan adalah proses seumur hidup. Hidup adalah pendidikan dan pendidikan adalah kehidupan. Hidup ini penuh dengan pengalaman. Seseorang tidak bisa hidup dengan pengalaman masa lalunya yang tidak dapat menyesuaikan diri dalam masyarakat. Jadi pendidikan membantu individu untuk merekonstruksi pengalaman dan menyesuaikan dengan lingkungan.
Pengembangan nilai sosial dan moral:
Masyarakat selalu tegang dengan sempitisme. Tidak ada nilai sosial atau moral. Sekarang pria itu berperilaku seperti binatang. Kebinatangan dapat diubah dengan pendidikan moral. Pendidikan mengajarkan nilai moral dan nilai sosial seperti kerja sama, toleransi, simpati, perasaan sesama, kasih sayang, rasa hormat terhadap penatua, membantu orang miskin dan orang yang membutuhkan.
Memberikan peluang atau kesetaraan:
Konstitusi India telah memperkenalkan istilah ‘kesetaraan’ karena kami tidak mendapatkan kesempatan yang sama dalam semua aspek. Pendidikan mengajarkan kita untuk memberikan kesempatan yang sama dalam semua aspek terlepas dari kasta, kepercayaan, warna kulit, jenis kelamin dan agama.
3. Fungsi pendidikan bagi suatu bangsa
- Penanaman tanggung jawab sipil dan sosial – Pendidikan membantu membuat generasi muda memahami hak dan kewajibannya sebagai warga negara negara demokratis.
- Pelatihan untuk kepemimpinan – Kualitas kepemimpinan individu dikembangkan ketika ia berpartisipasi dalam semua bidang kegiatan sosial, politik, agama dan pendidikan.
- Integrasi nasional – Kita hidup di satu negara yang memiliki keanekaragaman dalam hal warna, kasta, bahasa, makanan, pakaian, kebiasaan dan lingkungan fisik. Integrasi pendidikan mengarah pada integrasi emosional. Pendidikan melatih orang untuk persatuan, bukan untuk lokalitas, untuk demokrasi dan bukan untuk kediktatoran. Pendidikan merupakan tujuan paling penting dalam mendidik pria.
- Pembangunan nasional – Pendidikan membantu mewujudkan pembangunan nasional total dengan mengembangkan semua aspeknya yaitu sosial, ekonomi, budaya, spiritual, moral, pendidikan, dll.
Oleh karena itu, sesungguhnya pendidikan adalah unsur penting untuk segala usia dan tahap kehidupan individu, masyarakat, dan juga bangsa. Pendidikan bisa menjadi obat mujarab untuk semua kejahatan sosial.
Jenis-Jenis Pendidikan di Indonesia
Mengacu pada pengertian pendidikan di atas, terdapat tiga jenis pendidikan yang ada di Indonesia, yaitu Pendidikan Formal, Pendidikan Non Formal, dan Pendidikan Informal.
Ketiga jenis pendidikan ini saling bersinergi dan alangkah baiknya ketiganya dipenuhi oleh masing-masing peserta didik untuk hasil yang maksimal. Adapun pengertian dari jenis pendidikan tersebut antara lain adalah:
1. Pendidikan Formal
Pengertian pendidikan formal adalah suatu kegiatan pendidikan yang sistematis, teratur, dan berjenjang / bertingkat yang dilaksanakan di sekolah dengan mengikuti syarat yang jelas serta ditetapkan oleh pemerintah.
Pendidikan formal ditempuh di sekolah mulai dari jenjang pendidikan anak usia dini (PAUD) hingga perguruan tinggi Universitas). Biasanya, para orang tua fokus pada pendidikan formal anak dimana saat anak tidak mengikuti jenjang pendidikan tersebut, khususnya dari PAUD hingga SMP atau SMA, orang tua merasa khawatir dan mencari cara agar anak menyelesaikan kegiatan belajarnya itu.
Penyelenggaraan pendidikan formal di indonesia sendiri berdasarkan dan diatur oleh Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2010 mengenai perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2010, tentang Sekolah adalah lembaga pendidikan formal. Sekolah-sekolah yang lahir lalu berkembang dengan efektif dan efisien dari dan untuk masyarakat. Sekolah berkewajiban memberikan layanan-layanan pendidikan terhadap generasi muda bangsa.
Berikut ini adalah cici-ciri khusus pendidikan formal yang perlu diketahui:
- Memiliki syarat dan ketentuan tertentu untuk para peserta didik.
- Materi yang diberikan saat mengajar memiliki sifat akademis.
- Proses dari pendidikan formal cukup lama.
- Mempunyai kurikulum yang sangat jelas.
- Bagi tenaga pengajar harus bisa memenuhi klasifikasi tertentu.
- Para peserta didik wajib mengikuti ujian formal.
- Pemberlakukan mengenai administrasi yang seragam atau sama.
- Penyelenggara pendidikan bisa berasal dari pihak pemerintah ataupun pihak swasta.
Beberapa satuan pendidikan penyelenggara pendidikan formal:
- Taman Kanak-kanak (TK)
- Raudatul Athfal (RA)
- Sekolah Dasar (SD)
- Madrasah Ibtidaiyah (MI)
- Sekolah Menengah Pertama (SMP)
- Madrasah Tsanawiyah (MTs)
- Sekolah Menengah Atas (SMA)
- Madrasah Aliyah (MA)
- Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)
- Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK)
- Perguruan Tinggi
- Akademi
- Politeknik
- Sekolah Tinggi
- Institut
2. Pendidikan Non Formal
Pendidikan informal merupakan jalur pendidikan yang dilakukan seseorang dari lingkungan keluarganya sendiri maupun lingkungan masyarakat. Kegiatan belajar dilakukan secara mandiri. Tidak ada seorang pun yang menjadi fasilitatornya. Dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional disebutkan jika hasil dari pendidikan informal akan diakui seperti pendidikan formal maupun pendidikan non formal.
Pendidikan Informal dilakukan secara mandiri oleh orang tua dan juga lingkungan sekitar. Di dalamnya termasuk pendidikan etika, agama, moral, sopan santun, sosialisasi, budi pekerti, dan sebagainya yang bermanfaat bagi peserta didik untuk dirinya sendiri dan saat berkecimpung di tengah-tengah masyarakat.
Ada beberapa karakteristik pendidikan informal yang membedakannya dengan jenis pendidikan lainnya yaitu:
- Proses pendidikan dilakukan dalam lingkungan keluarga maupun lingkungan masyarakat.
- Tidak ada kurikulum, jadwal, metodologi, hingga evaluasi.
- Tidak ada jenjang pendidikan, karena itulah maka proses pendidikan informal dalam keluarga dapat terlihat dari kualitas diri / pribadi anggota keluarga yang tercermin di kehidupan sehari-hari.
- Tidak ada manajemen.
- Pendidikan dilakukan terus-menerus tanpa terikat ruang maupun waktu – tanpa mengenal umur, mental, fisik, dll.
- Orangtua menjadi guru terbaik untuk anak-anaknya, tapi tidak menutup kemungkinan dilakukan oleh saudara, teman, atau lainnya.
- Tidak ada syarat khusus yang wajib dilengkapi.
- Peserta didik tidak perlu mengikuti ujian.
Berikut ini adalah satuan pendidikan penyelenggara pendidikan non formal:
- Kelompok bermain (KB)
- Taman penitipan anak (TPA)
- Lembaga kursus
- Sanggar
- Lembaga pelatihan
- Kelompok belajar
- Pusat kegiatan belajar masyarakat
- Majelis taklim
3. Pendidikan Informal
Pendidikan informal adalah jenis pendidikan yang berasal dari keluarga dan lingkungan dimana peserta didiknya dapat belajar secara mandiri.
Beberapa yang termasuk di dalam pendidikan informal adalah:
- Agama
- Budi pekerti
- Etika
- Sopan santun
- Moral
- Sosialisasi
Pendidikan Karakter
Apa yang dimaksud dengan pendidikan karakter? Sebelum memahami istilah ini, kita perlu memahami apa pengertian pendidikan dan pengertian karakter.
Secara singkat, pendidikan adalah proses pembelajaran pengetahuan, keterampilan, dan kebiasaan manusia yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Sedangkan karakter adalah akumulasi kepribadian, watak, dan sifat individu yang mengarahkan kebiasaan dan keyakinan individu tersebut dalam menjalani kehidupannya sehari-hari.
Pengertian Pendidikan Karakter
Pengertian pendidikan karakter adalah suatu sistem pendidikan yang bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai karakter tertentu kepada peserta didik, di mana di dalamnya terdapat komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, serta tindakan untuk melakukan nilai-nilai tersebut.
Jadi, pendidikan karakter adalah suatu usaha manusia secara sadar dan terencana untuk mendidik dan memberdayakan potensi peserta didik guna membangun karakter pribadinya sehingga dapat menjadi individu yang bermanfaat bagi diri sendiri dan lingkungannya.
Pendidikan karakter (character education) sangat erat hubungannya dengan pendidikan moral dimana tujuannya adalah untuk membentuk dan melatih kemampuan individu secara terus-menerus guna penyempurnaan diri ke arah hidup yang lebih baik.
Pengertian Pendidikan Karakter Menurut Para Ahli
Agar lebih memahami apa itu character education, maka kita dapat merujuk pada pendapat beberapa ahli berikut ini:
1. T. Ramli
Menurut T. Ramli, pendidikan karakter adalah pendidikan yang mengedepankan esensi dan makna terhadap moral dan akhlak sehingga hal tersebut akan mampu membentuk pribadi peserta didik yang baik.
2. Thomas Lickona
Menurut Thomas Lickona, pengertian pendidikan karakter adalah suatu usaha yang disengaja untuk membantu seseorang sehingga ia dapat memahami, memperhatikan, dan melakukan nilai-nilai etika yang inti.
3. John W. Santrock
Menurut John W. Santrock, character education adalah pendidikan yang dilakukan dengan pendekatan langsung kepada peserta didik untuk menanamkan nilai moral dan memberi kan pelajaran kepada murid mengenai pengetahuan moral dalam upaya mencegah perilaku yang yang dilarang.
4. David Elkind
Menurut Elkind, pengertian pendidikan karakter adalah suatu metode pendidikan yang dilakukan oleh tenaga pendidik untuk mempengaruhi karakter murid. Dalam hal ini terlihat bahwa guru bukan hanya mengajarkan materi pelajaran tetapi juga mampu menjadi seorang teladan.
Fungsi Pendidikan Karakter
Secara umum fungsi pendidikan ini adalah sebagai pembentuk karakter peserta didik sehingga menjadi pribadi yang bermoral, berakhlak mulia, bertoleran, tangguh, dan berperilaku baik.
Adapun beberapa fungsi pendidikan karakter adalah sebagai berikut:
- Untuk mengembangkan potensi dasar dalam diri manusia sehingga menjadi individu yang berpikiran baik, berhati baik, dan berperilaku baik.
- Untuk membangun dan memperkuat perilaku masyarakat yang multikultur.
- Untuk membangun dan meningkatkan peradaban bangsa yang kompetitif dalam hubungan internasional.
Character education seharusnya dilakukan sejak dini, yaitu sejak masa kanak-kanak. Pendidikan ini bisa dilakukan di lingkungan keluarga, sekolah, dan lingkungan, serta memanfaatkan berbagai media belajar.
Tujuan Pendidikan Karakter
Pada dasarnya tujuan utama pendidikan karakter adalah untuk membangun generasi bangsa yang tangguh, di mana masyarakatnya berakhlak mulia, bermoral, bertoleransi, dan bergotong-royong.
Untuk mencapai tujuan tersebut maka di dalam diri peserta didik harus ditanamkan nilai-nilai pembentuk karakter yang bersumber dari Agama, Pancasila, dan Budaya.
Berikut adalah nilai-nilai pembentuk karakter tersebut:
- Kejujuran
- Sikap toleransi
- Disiplin
- Kerja keras
- Kreatif
- Kemandirian
- Sikap demokratis
- Rasa ingin tahu
- Semangat kebangsaan
- Cinta tanah air
- Menghargai prestasi
- Sikap bersahabat
- Cinta damai
- Gemar membaca
- Perduli terhadap lingkungan
- Perduli sosial
- Rasa tanggungjawab
- Religius
Lima Nilai Karakter Utama
Di Indonesia, gerakan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) fokus pada lima nilai karakter utama yang bersumber dari Pancasila, yaitu:
1. Nilai Karakter Religius
Penerapan nilai karakter religius dalam kehidupan masyarakat Indonesia sehari-hari dapat terlihat dalam beberapa hal, di antaranya:
- Sikap cintai damai.
- Sikap toleransi.
- Menghargai perbedaan agama dan kepercayaan.
- Berpendirian teguh.
- Percaya diri.
- Kerja sama antar pemeluk agama dan kepercayaan.
- Anti terhadap perundungan dan kekerasan.
- Mencintai lingkungan.
- Dan lain sebagainya.
2. Nilai Karakter Nasionalis
Nilai karakter nasionalis merupakan cara berpikir, bersikap, dan bertindak yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan terhadap bahasa, lingkungan, sosial, budaya, dan politik bangsa.
Penerapan nilai karakter nasionalis dalam kehidupan masyarakat sehari-hari dapat terlihat dalam beberapa hal, di antaranya:
- Apresiasi terhadap budaya Indoenesia.
- Menjaga kekayaan budaya Indonesia.
- Cinta tanah air.
- Menghormati keberagaman budaya, suku, dan, agama.
3. Nilai Karakter Integritas
Nilai karakter integritas merupakan nilai yang menjadi dasar perilaku setiap individu sehingga individu tersebut dapat dipercaya dalam perkataan dan perbuatan, serta berkomitmen terhadap moral dan nilai-nilai kemanusiaan.
Penerapan nilai karakter integritas dalam kehidupan masyarakat sehari-hari dapat terlihat dalam beberapa hal, di antaranya:
- Sikap bertanggungjawab.
- Aktif terlibat dalam kehidupan sosial.
- Konsisten dalam perkataan dan perbuatan yang berdasarkan kebenaran.
4. Nilai Karakter Mandiri
Nilai karakter mandiri merupakan sikap dan perilaku yang tidak tergantung pada orang lain dalam kehidupannya. Dengan kata lain, individu yang mandiri akan mempergunakan pikiran, tenaga, dan waktunya untuk mewujudkan harapan dan cita-citanya.
Penerapan nilai karakter mandiri dapat terlihat dalam beberapa hal, di antaranya:
- Memiliki etos kerja yang baik.
- Memiliki daya juang yang tinggi.
- Tangguh dalam menghadapi tanangan.
- Memiliki keberanian dan kreatif dalam bertindak.
5. Nilai Karakter Gotong Royong
Nilai karakter gotong-royong merupakan sikap dan perilaku yang menghargai semangat kerja sama dan bahu membahu dalam menyelesaikan masalah bersama.
Penerapan nilai karakter gotong-royong dapat terlihat dalam beberapa hal, di antaranya:
- Menghargai sesama.
- Dapat bekerjasama.
- Mampu berkomitmen terhadap keputusan bersama.
- Saling tolong menoling.
- Rasa solidaritas dan sikap kerelawanan.
- Anti terhadap diskriminasi dan kekerasan.
Pentingnya Pendidikan Karakter
Seperti kita ketahui bahwa proses globalisasi secara terus-menerus akan berdampak pada perubahan karakter masyarakat Indonesia.
Kurangnya pendidikan karakter akan menimbulkan krisis moral yang berakibat pada perilaku negatif di masyarakat, misalnya; pergaulan bebas, penyalahgunaan obat-obat terlarang, pencurian, kekerasan terhadap anak, dan lain sebagainya.
Menurut Thomas Lickona, setidaknya ada tujuh alasan mengapa character education harus diberikan kepada warga negara sejak dini, yaitu:
- Ini merupakan cara paling baik untuk memastikan para murid memiliki kepribadian dan karakter yang baik dalam hidupnya.
- Pendidikan ini dapat membantu meningkatkan prestasi akademik anak didik.
- Sebagian anak tidak bisa membentuk karakter yang kuat untuk dirinya di tempat lain.
- Dapat membentuk individu yang menghargai dan menghormati orang lain dan dapat hidup di dalam masyarakat yang majemuk.
- Sebagai upaya mengatasi akar masalah moral-sosial, seperti ketidakjujuran, ketidaksopanan, kekerasan, etos kerja rendah, dan lain-lain.
- Merupakan cara terbaik untuk membentuk perilaku individu sebelum masuk ke dunia kerja/ usaha.
- Sebagai cara untuk mengajarkan nilai-nilai budaya yang merupakan bagian dari kerja suatu peradaban.
Kesimpulan
Dari penjelasan di atas kita bisa memahami bahwa pendidikan dan pendidikan karakter tidak asing lagi bagi setiap orang. Diharapkan agar para guru, dosen maupun tenaga pendidikan lainnya, serta orang tua, sudah seharusnya senantiasa memotivasi anak agar tetap mengejar pendidikannya serta menanamkan nilai-nilai karakter yang baik kepada peserta didik mulai dari sejak dini.
Demikian ulasan lengkap tentang pengertian pendidikan dan pendidikan karakter, semoga bermanfaat buat kita semua.
Sumber:
- Pengertian Pendidikan: Definisi, Tujuan, Fungsi, dan Jenis Pendidikan
- Pendidikan Karakter: Pengertian, Fungsi, Tujuan, dan Urgensinya
- Pengertian Pendidikan
- Pengertian Pendidikan dan Makna Pendidikan
Barangkali sobat juga mencari artikel berikut:




Post a Comment for "Pengertian Pendidikan dan Pendidikan Karakter Beserta Definisi, Tujuan dan Fungsinya"
Post a Comment
Berkomentarlah sesuai topik artikel dan jangan menyertakan LINK HIDUP