29 Juni 2011

Facebook identik dengan warna birunya, pengaturannya yang statis, dan bisa dibilang itu-itu saja. Terkadang bagi sebagian orang tampak membosankan.

Pernahkah Anda berpikiran untuk mengubah tampilan default dari Facebook itu? Jika Anda tertarik untuk mengetahui caranya, mungkin tutorial berikut ini bisa menjadi sesuatu yang pantas untuk dicoba. Tapi, cara ini hanya bisa dilakukan melalui Internet Explorer dan Firefox.

1. Arahkan aplikasi web browser Anda ke www.pagerage.com. Sebelum dapat mengubah layout default Facebook, Anda harus menginstal plugin Yontoo Client. Klik tombol Install Plug-in untuk memulai men-download plugin tersebut terlebih dahulu.



2. Kemudian instal plugin tersebut.
















3. Beberapa saat kemudian, browser Anda akan memberitahukan bahwa sebuah plugin telah selesai diinstalkan di sana. Setelah browser Anda telah direstart terlebih dahulu, Anda akan mendapati sebuah toolbar milik Pagerage. Toolbar ini nantinya akan membantu kita dalam memanipulasi layout Facebook. Klik menu Layouts yang terdapat pada toolbar Pagerage tersebut. Ini juga bisa dilakukan dengan meng-klik Change Layout pada akun Facebook Anda.












4. Di sini, Anda dapat menemui banyak jenis layout yang dapat diterapkan ke dalam layout Facebook Anda. Cukup pilih salah satu dengan mengklik tombol Select pada layout yang anda inginkan atau Preview untuk melihat tampilan layout tersebut terlebih dahulu. Jika  Anda masih belum puas dengan tampilan layout yang ada, Anda bisa juga memilih layout yang lain dengan cara mengklik salah satu kategori layout yang telah tersedia.


5. Setelah layout pilihan tadi selesai di-load, maka Anda akan mendapatkan informasi bahwa layout tersebut telah berhasil diaplikasikan pada layout Facebook Anda sekarang. Klik link Go to Facebook… untuk melihat perubahan yang terjadi.

6. Berikut ini adalah salah satu contoh hasil penerapan salah satu layout yang ada. Anda dapat menggantinya sesering Anda mau.





Referensi : PC Mild Edisi 19/2010

Posted on Rabu, Juni 29, 2011 by Eman Mendrofa

No comments

27 Juni 2011

      Program linear adalah suatu metode atau cara yang dapat digunakan sebagai solusi masalah optimasi, yaitu memaksimumkan atau meminimumkan suatu bentuk fungsi objektif atau fungsi sasaran dengan kendala-kendala berupa sistem pertidaksamaan. Yang kita ketahui selama ini, bahwa penyelesaian permasalahan program linear  dapat dilakukan melalui penggunaan garis selidik dimana penyelesaian tersebut berlaku untuk dua atau tiga variabel. Dalam menyelesaikannya terlebih dahulu harus menerjemahkan masalah-masalah yang ada pada soal ke dalam bentuk bahasa matematika. Rumusan matematis yang diperoleh itu disebut model matematika

      Nah, bagaimana kalau pada soal tersebut memuat beberapa variabel?? misalnya terdiri dari empat variabel atau lebih. Tidak mungkin soal tersebut diselesaikan bila menggunakan garis selidik saja. Secara umum, penyelesaian program linear tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan 3 (tiga) metode atau cara yaitu dengan menggunakan garis selidik, melalui metode aljabar dan metode simplex. 

      Untuk mengetahui lebih lanjut tentang ke 3 (tiga ) metode tersebut, anda bisa mendownload-nya pada link berikut:

Posted on Senin, Juni 27, 2011 by Eman Mendrofa

No comments

Bagi teman-teman yang sedang menyusun Skripsi pasti kenal sama yang namanya Distribusi t. Karena Distribusi t merupakan salah satu lampiran yang harus dimuat dalam sebuah skripsi. Nah, aq punya tutorial ni untuk membuat distribusi tersebut. Tutorial tersebut dibuat melalui Microsoft Office Excel. Bila anda berminat untuk mencobanya silahkan download tutorialnya melalui link berikut. 

Membuat Distribusi t dengan Spinner.pdf

Selamat Mencoba...!!!

Posted on Senin, Juni 27, 2011 by Eman Mendrofa

No comments


  1. Dalam meningkatkan mutu akademik lulusan perlu diharapkan keefektifan guru dalam mengajar di sekolah. Mengajar dengan efektif berarti seorang guru harus memiliki kemampuan profesional dalam melaksanakan pembelajarannya di sekolah.  Keprofesionalan guru akan mendukung peningkatan kemampuan siswa dalam memahami materi pelajaran yang diajarkan. Partisipasi siswa melalui prestasi dalam belajar juga sangat dituntut dalam peningkatan mutu akademik lulusan karena peserta didik/siswa merupakan indikasi penting dalam meningkatkan mutu pendidikan. Tinggi rendahnya prestasi belajar siswa merupakan hasil dari upaya kegiatan belajar siswa yang bersangkutan.
  2. Untuk meningkatkan mutu akademik ditunjang oleh keefektifan guru dalam mengajar dan juga peran serta siswa melalui prestasi dan pemahaman isi pembelajaran. Guru merupakan Input yang berpengaruh sangat besar pada proses pembelajaran siswa dimana guru harus mampu menunjukkan keefektifannya agar menghasilkan output/lulusan yang bermutu. Keefektifan mengajar guru dapat dilihat dari dua aspek yaitu komitmen terhadap siswa dan komitmen terhadap profesi. Demi terciptanya output yang berguna bagi anggota masyarakat maka seorang guru harus berkomitmen untuk membantu memotivasi input melalui pengetahuan dan pemahaman serta pengajaran tujuan yang pantas atau tepat. Komitmen terhadap profesi menyangkut kemampuan profesional guru dalam melaksanakan tugas, kemampuan dalam penguasaan materi yang disajikan, serta metode yang harus digunakan dalam penyajian materi pembelajaran. Beberapa ahli mengemukakan beberapa pendapat atau kriteria keefektifan guru dalam mengajar. Adapun para ahli tersebut diantaranya Bernard (dalam Hoy 1990), Sergiovanni (1987), Richey (1978), Glickman (1981), Binet (dalam Fontana 1981), Rochey (1978), Flanders (dalam Richey 1979), Davis dan Thomas (1989). Pada umumnya para ahli mempunyai pandangan yang sama mengenai keefektifan guru dalam mengajar. Keefektifan guru mencakup kemampuan mencapai tujuan dari pembelajaran, perhatian terhadap siswa, penggunaan metode  dan material yang cocok untuk mengembangkan kemampuan siswa, mempunyai komitmen yang tinggi dan berabstrak tinggi, disiplin, energik, antusias, bersemangat, optimis, ramah. Untuk mengetahui keefektifan guru dilakukan dengan cara penilaian terhadap diri sendiri karena penilaian diri sendiri lebih akurat dibanding dengan penilaian yang dilakukan oleh pihak lain. Mutu akademik lulusan tidak mungkin akan tercapai tanpa peran serta siswa. Mutu akademik lulusan merupakan kualitas keberhasilan siswa dibidang akademik dalam proses kegiatan belajar mengajar yang diikutinya di sekolah. Tingkat keberhasilan ini akan menggambarkan kemampuan siswa sebenarnya dalam memahami pengetahuan yang telah diajarkan. Slamet (2000) mengungkapkan bahwa mutu akademik lulusan akan dicapai melalui test kemampuan akademik berupa nilai ulangan umum, ujian akhir sekolah (UAS) dan ujian nasional (UN). Mutu akademik lulusan sekolah dikatakan berkualitas atau bermutu tinggi, jika prestasi sekolah khususnya mutu akademik lulusan menunjukkan pencapaian yang tinggi dalam ujian akhir sekolah (UAS) dan ujian nasional (UN). UN merupakan salah satu bentuk wujud dalam peningkatan mutu pendidikan (Haribowo, 1994). Dalam SK Mendiknas No.423.7/502/108.03/2002 menyatakan bahwa ujian akhir nasional berfungsi sebagai alat pengendali mutu secara nasional, pendorong peningkatan mutu pendidikan, bahan pertimbangan dalam menentukan tamat belajar dan predikat prestasi siswa, dan sebagai salah satu bahan pertimbangan dalam penerimaan siswa baru pada jenjang pendidikan yang lebih tingggi.
  3. Penyelenggaraan pendidikan disuatu sekolah dapat mencapai hasil yang optimal ditentukan oleh keefektifan guru dalam mengajar. Hal ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Joni Bungai (2005) yang berpendapat bahwa guru memegang peranan penting dalam meningkatkan mutu akademik lulusan. Guru harus memiliki komitmen yang tinggi dalam membekali Input disaat proses belajar mengajar agar menghasilkan lulusan yang berintelektual dan yang mampu mengembangkan diri. Rusenshine dan frust (dalam Richey 1973) mengemukakan bahwa karakteristik guru yang efektif yakni antusias dalam penyajian materi, praktis dan berorientasi pada tugas sebagai umpan balik untuk mengulang kembali dari pelajaran yang telah dipelajari, menyajikan materi dengan jelas agar siswa mudah memahami, menggunakan berbagai materi dan prosedur pengajaran, serta memberi kesempatan kepada siswa untuk mempelajari materi pembelajaran.  
  4. Keefektifan mengajar guru meliputi : (1) Disiplin waktu yakni Guru harus mampu menggunakan waktu dengan baik, datang tepat waktu (tidak terlambat), penyajian materi harus bisa dicapai tepat waktu sesuai dengan yang telah ditentukan didalam jadwal. (2) Antusias yakni harus memiliki semangat yang tinggi dan antusias dalam penyajian materi pembelajaran. (3) Praktis dan berorientasi pada tugas. (4) Jelas dalam penyajian pelajaran yakni materi pembelajaran harusnya telah dikuasai sebelumnya, sehinga akan memudahkan dalam penyajiannya. Materi yang diajarkan tidak berbelit-belit, mudah dimengerti dan memberi contoh-contoh yang konkrit agar mampu dikuasai oleh peserta didik. Dalam penyajian materi harus didukung oleh beberapa buku dan disajikan dengan jelas. (5) Menggunakan berbagai materi dan prosedur pengajaran. (6) Terampil mengggunakan metode, media dan bahan pelajaran. (7) Memberikan kesempatan kepada siswa-siswa untuk belajar isi pelajaran. (8) Perhatian terhadap siswa Guru juga harus mampu memberikan respon yang bersifat membantu siswa yang lamban dalam memahami isi pelajaran, menghargai pendapat-pendapat yang diberikan oleh siswa.
  5. Guru sebagai tenaga kependidikan akan bertemu langsung dengan peserta didik/siswa. Guru mempunyai tanggung jawab penuh untuk membina siswa melalui proses pendidikan dan pelatihan disekolah. Guru terlebih dahulu harus berkualitas sehingga mampu melaksanakan pembelajaran dengan efektif. Kualitas kemampuan guru dalam melaksanakan pembelajarn ditentukan oleh berbagai variabel, diantaranya adalah latar belakang pendidikan formal, keterlibatan guru dalam berbagai kegiatan akademik, dan status ekonomi guru. Dengan memiliki variabel tersebut, dipastikan guru akan mampu melaksanakan pembelajaran dengan efektif sehingga siswa akan dapat meningkatakan prestasi belajarnya dengan baik. Keefektifan mengajar guru disekolah sangat berpengaruh terhadap mutu akademik lulusan. Keefektifan mengajar guru meliputi kehadiran guru mengajar di kelas tepat waktu sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan, guru selalu bersemangat dan antusias dalam mengajar, guru selalu menyusun persiapan mengajar, setiap mengakhiri pelajaran guru-guru selalu melakukan evaluasi yang digunakan untuk perbaikan belajar mengajar, pada waktu mengajar guru-guru selalu menggunakan contoh yang dapat dipahami oleh siswa, guru selalu menggunakan berbagai metode dan media pengajaran, serta guru selalu membantu siswa yang mengalami masalah dalam belajar. Keefektifan guru dalam mengajar akan berimplikasi terhadap pemahaman siswa dalam materi pembelajaran dan juga membuat siswa menjadi semangat dalam belajar sehingga akan meningkatkan prestasi belajarnya.
  6. Penulis menyajikan karya ilmiah ini dengan didukung oleh pendapat-pendapat para ahli untuk memperjelas kepada pembaca untuk lebih memahami keefektifan guru dalam mengajar. Penulis memaparkan berbagai karakteristik guru yang efektif dalam mengajar, serta implikasinya dalam menghasilkan output yang berkualitas. Mengajar yang efektif bukan bukan hanya menyajikan materi dengan baik tetapi harus mampu menguasai berbagai karakteristik guru yang efektif dalam mengajar.
  7. Dalam menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas, guru dituntut untuk membina calon sumber daya manusia (para murid/siswa) dengan efektif dan profesional. Guru harus bertanggung jawab dalam tugasnya untuk melakukan proses belajar mengajar dengan efektif, termasuk membimbing siswa agar menghasilkan lulusan yang bermutu.

Posted on Senin, Juni 27, 2011 by Eman Mendrofa

No comments

26 Juni 2011

Anda punya blog di blogger?? Bosan dengan tampilan yang itu-itu saja?? Mengapa tidak menggantinya dengan template atau theme yang berbeda? Temukan template tersebut di http://btemplates.com
Untuk memudahkan pemilihan, blog ini mengklasifikasikan template-templatenya dalam jumlah kolom, style, warna, dan posisi sidebar. Anda bisa memilih template dengan jumlah kolom satu sampai dengan empat.
Setelah ketemu, Anda bisa mem-preview atau langsung men-download template yang dikemas dalam format ZIP. Selamat berburu template idaman untuk blog Anda.

Cara Mengubah Tampilan Template:
1. Download template
2. Ekstrak file zip yang sudah di download
2. Buka Blog anda (Dashboard >> Design >> Edit HTML)
3. Backup terlebih dahulu tampilan template blog anda dengan meng-klik Download Template Lengkap


4. Kemudian pilih Browse >> arahkan ke file xml dari hasil ekstrak >> unggah
5. Akan muncul kotak seperti ini:


6. Klik Pertahankan Widget
7. Enjoy!


Sumber : PC Mild Edisi 10/2011

Posted on Minggu, Juni 26, 2011 by Eman Mendrofa

No comments

A. PENGERTIAN
Sebelum melakukan proses pembelajaran, seorang guru telah menentukan pendekatan dan metode yang akan digunakan agar tujuan pembelajaran yang telah disusun dapat dicapai. Pendekatan dan metode tersebut disesuaikan dengan tujuan pembelajaran dan karateristik materi yang akan disajikan. Dalam arti bahwa, pendekatan dan metode yang digunakan dalam membahas materi pelajaran tidak selalu sama.
Pendekatan berbeda dengan metode.
Pendekatan (approach) lebih menekankan pada strategi dalam perencanaan sedangkan metode (method) lebih menekankan pada teknik pelaksanaan. (Nuryani Y. Rustam, dkk.2003)
Pendekan bersiafat aksiomatis yang menyatakan pendirian, filosofis dan keyakinan yang berkaitan dengan serangkaian asumsi sedangkan metode bersifat prosedural / proses yang teratur. (Lufri,2006). Dan menurut Nurgiyantoro(1985) serta Susilo(1997) metode merupakan jabaran dari pendekatan.
Untuk membedakan metode dengan pendekatan kita mengalami kesulitan. Malahan terkadang pendekatan dianggap sama dengan metode. Misalnya : pendekatan inkuiri sering disebut metode inkuiri.

B. BEBERAPA PENDEKATAN PEMBELAJARAN 
1. Pendekatan Lingkungan
Lingkungan adalah segala sesuatu yang berada di luar kita, baik berupa lingkungan hayatai maupun lingkungan nonhayati.
Pendekatan lingkungan berarti menghubungkan lingkungan dalam suatu proses pembelajaran.
UNESCO (1980) mengemukakan jenis-jenis lingkungan yang dapat digunakan oleh siswa untuk kepentingan pembelajaran, yaitu :
  • Lingkungan yang meliputi faktor-faktor fisik, biologo, sosioekonomi dan budaya yang berpengaruh secara langsung maupun tidak langsung dengan kehidupan siswa.
  • Sumber masyarakat yang meliputi setiap unsur/fasilitas yang ada dalam suatu kelompok masyarakat.
  • Ahli-ahli setempat yang meliputi tokoh-tokoh masyarakat yang memiliki pengetahuan khusus dan berkaitan dengan kepentingan pembelajaran. 

2. Pendekatan Keterampilan proses
Tujuan utama pendekatan keterampilan proses adalah mengembangkan kemampuan siswa dalam keterampilan proses atau langkah-langkah ilmiah seperti mengamati, berhipotesa, merencanakan, menafsirkan, dan mengkomunikasikan. Dalam pendekatan keterampilan proses dituntut keterlibatan siswa secara langsung dalam kegiatan belajar.
Pendekatan keterampilan proses merupakan pendekatan yang berorientasi pada proses bukan kepada hasil. Keterampilan proses melibatkan keterampilan-keterampilan kognitif (intelektual,manual dan sosial). Karena dengan menggunakan keterampilan proses siswa menggunakan pikirannya. Keterampilan manual jelas terlihat dalam keterampilan proses karena mungkin siswa melibatkan penggunaan alat dan bahan, pengukuran, penyusunan atau perakitan alat. Dengan keterampilan sosial dimaksud bahwa mereka berinterkasi dengan sesama selama melkasanakan kegiatan yang dimaksud misal mendiskusikan hasil pengamatan.
Keterampilan proses terdiri atas sejumlah keterampilan yang saling berkaitan, yaitu :
    • Melakukan pengamatan (observasi), misal mengamati gambar sebuah balok.
    • Menafsirkan pengamatan (intepretasi)
    • Mengelompokkan (klasifikasi), misal memahami sifat bangun ruang
    • Meramalkan (prediksi)
    • Berkomunikasi
    • Berhipotesis
    • Merencanakan percobaan (penyelidikan)
    • Menerapkan konsep atau prinsip
    • Mengajukan pertanyaan

    3. Pendekatan Konsep 
    Pendekatan konsep merupakan pendekatan yang mengarahkan siswa untuk menguasai konsep dengan benar. Pendekatan ini sangat penting untuk menghindari anak didik salah konsep. Bidang matematika kaya akan konsep. Oleh karena itu, pendekatan konsep merupakan suatu keharusan dalam pembelajaran matematika. Misalnya seorang guru matematika akan mengajarkan tentang persamaan kuadrat. Berarti melalui beberapa metode siswa diantarkan untuk memahami konsep persamaan kuadrat.

    4. Pendekatan Inkuiri
    Pendekatan ini merupakan pendekatan pembelajaran yang mengarahkan siswa untuk menemukan ide dan informasi melalui usaha sendiri.
    Pendekatan inkuiri mempunyai tahapan kerja yang sering dikenal dengan langkah-langkah metode ilmiah, yaitu :

    • Melakukan observasi
    • Mengajukan pertanyaan
    • Mengajukan jawaban sementara
    • Mengumpulkan data
    Menarik kesimpulanMelakukan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan inkuiri berarti membelajarkan siswa untuk mengendalikan situasi yang dihadapi ketika berhubungan dengan dunia fisik, yaitu dengan menggunakan teknik yang digunakan para ahli penelitian. Dalam pendekatan inkuiri berarti guru merencanakan situasi sedemikian rupa sehingga siswa didorong untuk menggunakan prosedur yang digunakan para ahli penelitian untuk mengenal masalah, mengajukan pertanyaan, mengemukakan langkah-langkah penelitian, memberikan penerapan yang ajek, membuat ramalan dan penjelasan yang menunjang pengamatan. Pendekatan inkuiri dapat dibedakan menjadi 2 yaitu : inkuiri terpimpin (guided inkuiri) dan inkuiri bebas (open-ended inkuiri). Perbedaan antara keduanya terletak pada siapa yang mengajukan pertanyaan dan apa tujuan dari kegiatannya. 

    5. Pendekatan Penemuan (Discovery Approach)
    Pendekatan penemuan pertama kali dipopulerkan oleh Jerome Bruner. Pendekatan penemuan menurut Carin dan Sund dalam Nuryani Y. Rustam (2003) sama dengan pendekatan inkuiri tetapi menurut Dettrick G.W (2001) kedua pendekatan tersebut berbeda.
    Apabila dalam suatu proses pembelajaran digunakan pendekatan penemuan berarti dalam kegiatan belajar mengajar siswa diberi kesempatan untuk menemukan sendiri fakta dan konsep tentang fenomena ilmiah. Seifer (1991) mengemukakan bahwa discovery merupakan suatu pendekatan pembelajaran atau pendidikan yang menuntut siswa menemukan ide-ide dan informasi melalui usaha sendiri dari materi yang telah diberikan kepada mereka.
    Menurut Carin dan Sund dalam Nuryani Y. Rustam (2003) pembelajaran dengan pendekatan penemuan dibedakan menjadi :
    a. Penemuan terpimpin (Guide Discovery)
    Pada penemuan terpimpin guru mengemukakan masalah, memberi pengarahan mengenai pemecahan masalah dan membimbing siswa dalam hal mencatat data.
    b. Penemuan terpimpin yang kurang terstruktur (Less Struckture Guide Discovery)
    Pada penemuan terpimpin yang kurang terstruktur, guru mengemukakan masalah siswa diminta mengamati dan melakukan kegiatan untuk memecahkan masalah.
    c. Penemuan bebas (Free Discovery)
    Pada penemuan bebas, mulai dari memunculkan masalah sampai pemecahannya semua dilakukan sendiri oleh siswa. Penemuan bebas ini pada umumnya diarahkan pada siswa yang lebih tua usianya dan lebih berpengalaman. 

    6. Pendekatan Pemecahan Masalah (Problem Solving)
    Pendekatan pemecahan masalah adalah suatu pendekatan yang bertujuan untuk melatih siswa untuk mampu memecahkan masalah dalam bidang ilmu pengetahuan yang sedang dipelajari. Masalah adalah perbedaan atau kesenjangan yang terjadi antara yang diinginkan dengan kenyataan yang terjadi sehingga timbul keinginan untuk memecahkan atau mencari solusinya.
    Banyak ragam pola yang dirumuskan oleh para ahli untuk menerapkan pendekatan pemecahan masalah antara lain :
    1. Tahapan problem solving menurut Gagne (1985)
    a. penyajian masalah (persestation of the problem) dapat dinyatakan dalam pernyataan verbal atau beberapa sarana (means) yang lain.
    b. mendefenisikan masalah atau membedakan sifat-sifat esensial (essential features) dari situasi.
    c. memformulasikan hipotesis yang dapat diaplikasikan pada solusi.
    d. pengujian hipotesis (verification of the hipotesis) atau dilakukan secara berturut-turut (successive) sampai menemukan jawaban yang mencapai solusi.
    2. Tahapan problem solving menurut Lufri (2006)
    a. memahami masalah
    b. merumuskan masalah
    c. mengajukan beberapa alternatif pemecahan atau solusi masalah
    d. memilih solusi yang paling tepat dan menguraikan rasionalnya sehingga masalah dapat dipecahkan.
     Di dalam pendekatan pemecahan masalah ini ada dua versi, yaitu:
    Versi pertama, siswa dapat saja menerima saran tentang prosedur yang digunakan, cara mengumpulkan data, menyusun data, dan menyusun serangkaian pertanyaan yang mengarah ke pemecahan masalah.
    Versi kedua, hanya masalah yang dimunculkan. Siswa yang merancang pemecahan sendiri. Guru berperan hanya dalam menyediakan bahan dan memberi petunjuk.

    7. Pendekatan Sains, Teknologi Dan Masyarakat (STM) / Pendekatan Science, Technology dan Society (STS)
    Dalam rangka mewujudkan sekolah sebagai bagian dari masyarakat telah dikembangkan bahan kajian pengajaran sains dalam bentuk sains, teknologi dan masyarakat (STM). Pendekatan STM merupakan gabungan antara pendekatan konsep, pendekatan keterampilan proses, pendekatan CBSA, pendekatan inkuiri dan discoveri serta pendekatan lingkungan. Pendekatan STM berangkat dai isu-isu yang berkembang di masyarakat akibat dampak kemajuan sains dan teknologi. Filosofi yang mendasari pendekatan STM adalah filosofi konstruktivisme yaitu siswa menyusun  sendiri konsep-konsep di dalam struktur kognitifnya berdasarkan apa yang telah mereka ketahui sebelumnya.

    Menurut Yager ada 6 ranah yang dikembangkan melalui STM yaitu :
    • Konsep
    • Proses
    • Kreatifitas
    • Sikap dan nilai
    • Penerapan
    • Hubungan dan keterkaitan

    Menurut Poedjiadi (2000) menghubungkan S-T-M dalam pembelajaran dapat dilakukan dengan 3 cara yaitu :
    • Sebagai pendekatan dengan mengaitkan antara sains, teknologi dan masyarakat.
    • Sebagai pendekatan dengan menggunakan isu atau masalah pada awal pembelajaran.
    • Membuat program S-T-M dengan skenario tertentu digunakan sebagai suplemen. 

    8. Pendekatan Contextual Teching And Learning
    Contextual teaching and learning (CTL) adalah suatu pendekatan pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkanya dalam kehidupan mereka (Wina Sanjaya, 2005).

    Menurut Wina Sanjaya, ada 3 hal yang harus dipahami tentang CTL, yaitu
    • CTL menekankan kepada proses keterlibatan siswa untuk menemukan materi artinya proses belajar diorientsikan pada proses pengalaman secara langsung. Proses belajar dalam konteks CTL tidak mengharapkan agar siswa hanya menerima pelajaran, akan tetapi proses mencari dan menemukan sendiri materi pelajaran.
    • CTL mendorong agar siswa dapat menemukan hubungan antara materi yang dipelajari dengan situasi kehidupan nyata, artinya siswa dituntut untuk dapat menangkap hubungan antara pengalaman belajar di sekolah dengan kehidupan nyata.
    • CTL mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan, artinya CTL bukan hanya mengharapkan siswa dapat memahami materi yang akan dipelajari, akan tetapi bagaimana materi pelajaran itu dapat mewarnai perilakunya dalam kehidupan sehari-hari.

    CTL sebagai suatu pendekatan pembelajaran memiliki 7 azas atau sering disebut komponen-komponen CTL, yaitu :
    a. Konstruktivisme, adalah proses membangun dan menyusun pengetahuan baru dalam struktur kognitif siswa berdasarkan pengalaman.
    b. Inkuiri(menemukan) adalah proses pembelajaran didasarkan pada pencarian dan penemuan melalui proses berpikir secara sistematis. Secara umum, kegiatan inkuiri sebenarnya sebuah siklus. Siklus terdiri dari langkah-langkah sebagai berikut :
    • Merumuskan masalah
    • Mengumpulkan data melalui observasi
    • Menganalisis dan menyajikan hasil dalam bentuk tulisan, gambar, laporan,  bagan, tabel dan karya lainnya.
    • Mengkomunikasikan atau menyajikan hasil karya pada pembaca, teman sekelas atau audiens yang lain.
    c. Bertanya (Questioning)
    Bertanya pada hakekatnya adalah bertanya dan menjawab pertanyaan. Bertanya dapat dipandang sebagi refleksi dari keingintahuan setiap individu sedangkan menjawab pertanyaan mencerminkan kemampuan seseorang dalam berpikir.
    Menurut Nurhadi dan Agus (2003) dalam pembelajaran, kegiatan bertanya berguna untuk :
    • Menggali informasi,baik administrasi maupun akademis
    • Mengecek pemahaman siswa.
    • Memecahkan persoalan yang dihadapi.
    • Membangkitkan respon kepada siswa.
    • Mengetahui sejauh mana keingintahuan siswa.
    • Mengetahui hal-hal yang sudah diketahui siswa.
    • Memfokuskan perhatian siswa pada sesuatu yang dikehendaki guru.
    • Untuk membngkitkan lebih banyak lagi pertanyaan dari siswa
    • Untuk menyegarkan kembali pengetahuan siswa.
    d. Masyarakat Learning (Learning Community)
    Konsep masyarakat belajar dalam CTL menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh melalui kerja sam dengan orang lain.
    e. Pemodelan (modeling)
    Asas pemodelan adalah proses pembelajaran dengan memperagakan sesuatu sebagai contoh yang dapat ditiru oleh setiap siswa.Misalnya guru memberikan contoh bagaimana cara menggunanakan sebuah alat.
    f. Refleksi (reflection)
    Refleksi adalah proses pengendapan pengalaman yang telah dipelajari yang dilakukan dengan cara mengurutkan kembali kejadian-kejadian atau peristiwa pembelajaran yang telah dilaluinya.
    g. Penilaian nyata (authentic assessment)
    Penilaian nyata adalah proses yang dilakukan guru untuk mengumpulkan informasi tentang perkembangan belajar yang dilakukan siswa. 

    9. Pendekatan Terpadu (Integrated Approach)
    Pendekatan ini merupakan pendekatan yang intinya memadukan dua unsur atau lebih dalam suatu kegiatan pembelajaran dimana unsur yang dipadukan tersebut dapat berupa konsep dengan proses, konsep dari satu mata pelajaran dengan konsep mata pelajaran yang lain, atau dapat juga berupa penggabungan suatu metode dengan metode lain.Menurut Lufri (2006), pendekatan terpadu merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang bersifat menyeluruh, yang memadukan berbagai disiplin bidang studi atau bidang ilmu yang berpusat atau berfokus pada suatu masalah atau topik atau proyek, baik teoritis maupun praktik.Pendekatan terpadu bertujuan untuk mengembangkan kompetensi siswa secara terintegrasi. 

    10. Pendekatan Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA)
    CBSA merupakan istilah yang muncul dari SAL (Student Active Learning).Mohammad Ali (1984) menyarankan dua sudut pandang tentang pengertian CBSA, yaitu CBSA sebagai suatu konsep dan CBSA sebagai pendekatan.
    • CBSA sebagai suatu konsep merupakan konsep dalam mengembangkan keaktifan proses belajar mengajar, baik keaktifan mengenai kegiatan guru maupun keaktifan mengenai kegiatan siswa.
    • CBSA sebagai suatu pendekatan merupakan suatu upaya yang dilakukan guru yang dimulai dari perencanaan pengajaran, pelaksanaan proses pembelajaran, dan diakhiri dengan penilaian hasil belajar bardasarkan konsep tertentu.CBSA mencakup pengambangan strategi, metode dan teknik mengajar.
    Pendekatan CBSA merupakan pendekatan yang menekankan kepada siswa untuk belajar aktif, sementara guru aktif merancang pembelajaran yang tepat, aktif memfasilitasi dan membimbing, serta mengevaluasi siswa sehingga terjadi proses pembelajaran yang optimal.
    Dimyati dan Mudjiono (2006) mengatakan bahwa pendekatan CBSA dapat diartikan sebagai anutan pembelajaran yang mengarah kepada pengoptimalisasian pelibatan intelektual-emosional siswa dalam proses pembelajaran, dengan pelibatan fisik siswa apabila diperlukan.

    Raka Joni ddalam Dimyati dan Mudjiono (2006), mengungkapkan bahwa sekolah yang ber-CBSA dengan baik mempunyai karakteristik :
    • Pembelajaran yang dilakukan lebih berpusat pada siswa, sehingga siswa lebih berperan aktif dalam mengembangkan cara-cara belajar mandiri, siswa berperan serta pada perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian proses belajar, pengalaman siswa lebih diutamakan dalam memutuskan titik tolak kegiatan.
    • Guru adalah pembimbing dalam terjadinya pengalaman belajar, guru bukan satu-satunya sumber informasi, guru merupakan salah satu sumber belajar yang memberikan peluang bagi siswa agar dapat memperoleh pengetahuan/keterampilan melalui usaha sendiri, dapat mengembangkan motivasi dari dalam dirinya, dan dapat mengembangkan pengalaman untuk membuat suatu karya.
    • Tujuan kegiatan tidak hanya untuk sekedar mengejar standar akademis, selain pencapaian standar akademis, kegiatan ditekankan untuk menegmbangkan kemampuan siswa secara utuh dan seimbang.
    • Pengelolaan kegiatan pembelajaran lebih menekankan pada kreativitas siswa, dan memperhatikan kemajuan siswa untuk menguasai konsep-konsep dengan mantap.
    • Penilaian dilaksanakan untuk mengamati dan mengukur kegiatan dan kemajuan siswa, serta mengukur berbagai keterampilan yang dikembangkan misalnya keterampilan berbahasa, keterampilan sosial, keterampilan matematika, dan keterampilan proses dalam IPA dan keterampilan lainnya. 

    11. Pendekatan Induktif
    Pendekatan induktif merupakan pendekatan pembelajaran yang dimulai dari yang khusus sampai atau menuju pada yang umum, atau mulai dari contoh-contoh sampai pada suatu kesimpulan. 

    12. Pendekatan Deduktif
    Pendekatan deduktif merupakan  kebalikan dari pendekatan induktif, yaitu pendekatan pembelajaran yang dimulai dari yang umum sampai atau menuju pada yang khusus, atau dimulai dari kesimpulan sampai kepada contoh-contoh. 

    13. Pendekatan Interaktif
    Pendekatan interaktif ini dikenal sebagai pendekatan pertanyaan anak. Memberi kesempatan kepada siswa untuk mengajukan pertanyaan untuk kemudian melakukan penyelidikan yang berkaitan dengan pertanyaan yang mereka ajukan (Faire & Cosgrove, 1988 dalam Harlen W 1996). Pertanyaan yang diajukan siswa dapat sangat bervariasi sehingga guru perlu melakukan langkah-langkah mengumpulkan, memilih dan mengubah pertanyaan tersebut menjadi suatu kegiatan spesifik.

    C. BEBERAPA METODE PEMBELAJARAN
    Penggunaan metode yang tepat akan turut menentukan efektifitas dan efesiensi pembelajaran perlu dilakukan dengan sedikit ceramah dan metode-metode yang berpusat pada guru serta lebih menekankan pada interaksi siswa. Penggunaan metode yang bervariasi akan sangat membantu siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran. Metode merupakan cara-cara yang ditempuh guru untuk menampilkan situasi pembelajaran yang benar-benar menyenangkan dan mendukung bagi kelancaran proses belajar dan tercapai hasil belajar siswa yang memuaskan.
    Dalam kegiatan pembelajaran, guru tidak harus terpaku dengan menggunakan metode. Tetapi guru sebaiknya menggunakan metode yang bervariasi agar kegiatan pembelajaran tidak membosankan tetapi menarik perhatian siswa. Tetapi juga penggunaan metode yang bervariasi tidak akan menguntungkan kegiatan pembelajaran bila penggunaannya tidak tepat dan sesuai dengan situasi yang mendukung dengan kondisi psikologi siswa. Oleh karena itu, disinalah kompetensi guru diperlukan dalam pemilihan metode yang bervariasi. Tidak selamanya menguntungkan bila guru mengabaikan faktor-faktor yag mempengaruhi penngunaannya.
    Menurut Winarno Surakhmad dalam Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain (2002) mengemukakan 5 faktor yang mempengaruhi penggunaan metode mengajar, yaitu :
    • Tujuan yang berbagai-bagai jenis dan fungsinya
    • Siswa yang berbagai-bagai tingkat kematangannya
    • Situasi yang berbagai-bagai keadaannya
    • Fasilitas yang berbagai-bagai kualitas dan kuantitasnya
    • Pribadi guru serta kemampuan profesionalnya yang berbeda-beda.

    1. Metode Ceramah
    Metode ceramah sering disebut juga dengan metode tradisional (konvensional). Sejak dulu metode ini telah dipergunakan guru sebagai cara untuk menyampaikan materi pelajaran.

    Metode ceramah memiliki kelebihan dan kekurangan, yaitu :
    Kelebihan metode ceramah
    • mudah dilaksanakan
    • guru mudah meguasai kelas
    • dapat diikuti oleh jumlah siswa yang banyak
    • mudah mempersiapkan dan melaksanakannya
    • guru mudah menerangkan pelajaran dengan baik
    • dapat mencakup sejumlah materi pelajaran
    • dapat menghemat waktu
     Kelemahan metode ceramah : 
    • kegiatan pembelajaran menjadi vebalisme (pengertian kata-kata)
    • membosankan bagi siswa bila terlalu lama
    • menyebabkan siswa pasif atau tidak merangsang perkembangan kreativitas siswa
    • guru sukar menyimpulkan sejauh mana pemahaman siswa terhadap materi yang disampaikan
    • tidak dapat mencakup berbagai tipe belajar siswa
    • kurang menggairahkan belajar siswa bila guru kurang cakap berbicara
    • membuat siswa bergantung pada gurunya
    • merugikan siswa yang lemah dalam keterampilan mendengar

    Adapun hal-hal yang perlu diperhatikan guru pada waktu mengajar dengan menggunakan metode ceramah menurut E. Mulyasa (2006) adalah:
    • Guru akan menjadi satu-satunya pusat perhatian. Oleh karena itu sebelum memulai ceramah perlu mengoreksi diri, antara lain cara berpakaian.
    • Untuk mengarahkan siswa, ceramah sebaiknya dimulai dengan menyampaikan tujuan pengajaran yang akan dicapai setelah kegiatan pembelajaran.
    • Sampaikan garis ajar, baik secara lisan maupun tertulis.
    • Hubungkan materi pelajaran yang akan disampaikan dengan pengetahuan dan pengalaman yang telah diperoleh siswa
    • Mulai dari hal-hal yang umum menuju hal-hal yang husus, dari hal yang sederhana menuju hal-hal yang rumit.
    • Selingilah dengan contoh-contoh yang erta kaitannya dengan kehidupan siswa, sekali-kali lakukanlah humor yang menunjang pembelajaran.
    • Arahkanlah perhatian pada seluruh siswa dan jangan melakukan gerakan-gerakan yang dapat mengganggu kelancaran pembelajaran.
    • Gunakanlah alat peraga/media yang sesuai dengan bahan yang diceramahkan
    • Kontrollah agar pembicaraan tidak monoton, lakukan penekanan-penekanan pada materi tersebut 

    2. Metode Tanya Jawab
    Metode tanya jawab merupakan cara menunjukkan bahan ajar dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan yang memerlukan jawaban untuk mencapai tujuan tertentu. Pertanyaan-pertanyaan bisa muncul dari guru, bisa juga dari siswa demikian halnya juga dengan jawaban yang muncul bisa dari guru maupun dari siswa. Pertanyaan dapat juga digunakan untuk merangsang aktifitas dan kreatifitas bepikir siswa. Oleh karena itu, mereka harus didorong untuk mencari dan menemukan jawaban yang tepat.

    Kelebihan metode tanya jawab 
    • pertanyaan yang diajukan menarik serta dapat memusatkan perhatian siswa.
    • pertanyaan yang diajukan dapat merangsang siswa untuk melatih dan mengembangkandaya pikir.
    • dapat mengembangkan keberanian dan keterampilan siswa dalam menjawab dan mengemukakan pendapat.
    • mengetahui kedudukan siswa dalam belajar di kelas dari aktifitas tanya jawab dan dari jawaban-jawaban serta tanggapan-tanggapan yang dilontarkan secara kontinu.

    Kelemahan metode tanya jawab 
    • waktu sering banyak terbuang bila siswa tidak responsif terhadap pertanyaan.
    • dapat menimbulkan rasa gugup bagi siswa yang tidak memiliki keberanian bertanya dan menjawab.
    • jika jumlah siswa banyak dalam satu kelas, pertanyaan tidak dapat disebarkan kepada seluruh siswa, sehingga siswa tidak memiliki kesempatan yang sama untuk menjawab maupun bertanya.
    • mempunyai peluang menyimpang dari pokok masalah.
    • kurang menarik bagi siswa yang kurang aktif berpikir.
    • sulit merancang pertanyaan yang sesuai dengan keadaan siswa.
    • pembelajaran tidak berjalan dengan baik jika siswa tidak membaca terlebih dahulu.
    Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan metode tanya jawab menurut E. Mulyasa (2006) adalah :
    • Guru perlu menguasai bahan secara penuh, jangan sekali-kali mengajukan pertanyaan yang guru sendiri tidak tahu jawabannya.
    • Siapkanlah pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan kepada siswa sedemikian rupa, agar pembelajaran tidak menyimpang dari bahan yang sedang dibaha, mengarah pada pencapaian tujuan pembelajaran dan sesuai dengan kemampuan berpikir siswa.
    Selanjutnya menurut E. Mulyasa, pertanyaan yang baik memiliki kriteria sebagai berikut :
    • Memberi acuan
    • Memusatkan jawaban
    • Memberi tuntutan
    • Melacak jawaban siswa  

    3. Metode Diskusi
    Metode diskusi adalah cara penyajian pengajaran dimana siswa-siswi dihadapkan pada suatu masalah yang dapat berupa pertanyaan atau pertanyaan yang bersifat problematik untuk dibahas dan dipecahkan bersama.
    Dalam kamus bahasa Indonesia (1988) bahwa diskusi adalah pertemuan ilmiah untuk bertukar pikiran mengenai suatu masalah. Teknik diskusi adalah salah satu teknik pembelajaran yang dilakukan oleh seorang guru di sekolah. Di dalam diskusi ini proses belajar mengajar terjadi, dimana interaksi antara dua atau lebih individu yang terlibat, saling tukar menukar pengalaman, informasi, memecahkan masalah, sehingga semuanya siswa aktif.
    Salah satu syarat untuk metode diskusi adalah sebagian besar siswa harus mempunyai pengetahuan dan wawasan tantang topik atau masalah yang didiskusikan. Jika peserta diskusi tidak menguasai masalah atau materi yang akan didiskusikan maka diskusi tidak akan berjalan dengan baik, pemecahan masalah tidak akan ditamukan secara tepat. Pemimpin diskusi sangat berperan dalam mengatur diskusi. Oleh karena itu, pemimpin diskusi haruslah seorang siswa yang terampil memimpin diskusi. Peran guru juga tidak bisa diabaikan dalam pelaksanaan metode diskusi. Guru harus mengikuti jalannya diskusi dan melakukan arahan dan bimbingan bila jlannya diskusi melenceng dari apa yang direncanakan. Guru harus memberikan penegasan terhadap pemecahan masalah yang dirumuskan dalam diskusi.

    Kelebihan metode diskusi
    • merangsang kreatifitas siswa dalam bentuk ide, pendapat, gagasan, prakarsa ataupun terobosan-terobosan baru dalam pemecahan masalah.
    • mengembangkan sikap menghargai pendapat orang lain.
    • dapat memperluas wawasan siswa.
    • membina untuk terbiasa musyawarah untuk mufakat dalam memecahkan suatu masalah.
    • dapat melibatkan siswa secara langsung dalam pembelajaran.
    • dapat mengembangkan kompetensi sosial dan sikap demokratis.
    • menumbuhkan kemampuan berpikir kritis.
    • melatih kestabilan emosi
    • keputusan yang dihasilkan kelompok akan lebih baik dari pada berpikir sendiri.

    Kelemahan metode diskusi 
    • kesulitan dalam jumlah siswa yang banyak.
    • kadang kala memerlukan waktu yang panjang.
    • siswa mendapat informasi yang terbatas.
    • mungkin dikuasai oleh siswa yang suka berbicara.
    • kurang menarik bagi siswa yang kurang aktif berpikir dan berbicara.
    • pembicaraan dan pembahasan sering meluas dan mengambang.
    • perbedaan pendapat dapat mengundang reaksi di luar kelas bahkan dapat menimbulkan bentrokkan fisik.
    Agar proses pembelajaran dengan metode diskusi berjalan lancar, dan menghasilkan tujuan belajar secara efektif, menurut E. Mulyasa (2006) perlu diperhatikan langkah-langkah berikut:
    • Rumuskanlah tujuan dan masalah yang akan dijadikan topik diskusi
    • Siapkanlah sarana dan prasarana yang diperlukan untuk diskusi.
    • Susun peran siswa dalam diskusi, sesuai dengan yang akan dilakukan.
    • Berilah pengarahan kepada siswa secukupnya agar melibatkan diri secara aktif dalam kegiatan diskusi
    • Ciptakanlah suasana yang kondusif sehingga siswa dapat mengemukakan pendapat secara bebas untuk emecahkan masalah yang didiskusikan.
    • Berikanlah kesempatan kepada siswa secara merata agar diskusi tidak didominasi oleh beberapa orang saja.
    • Sesuaikan penyelenggaraan diskusi dengan waktu yang tersedia.
    • Sadarilah akan peran guru dalam diskusi, baik secara fasilitator, pengawas, pembimbing, maupun sebagai evaluator jalannya diskusi.
    • Akhirilah diskusi dengan mengambil kesimpulan dari apa-apa yang telah dibicarakan. 

    4. Metode Demonstrasi
    Metode demonsrasi adalah penyajian pelajaran dengan memperagakan suatu proses kejadian, mekanisme atau cara kerja suatu alat yang berkaitan dengan bahan pelajaran.Misalkan pada pembelajaran transportasi pada tumbuhan, melalui demonstrasi akan lebih jelas dipahami tentang pengertian difusi dan osmosis , karena mereka melihat secara langsung perubahan warna dalam bejana setelah ditetesi tinta berwarna.Peragaan suatu proses dapat dilakukan guru sendiri dan dibantu siswa , dapat juga dilakukan sekelompok siswa.

    Kelebihan metode demonstrasi 
    • Dapat mengatasi kesulitan jumlah alat, bahan dan waktu yang tersedia.
    • Dapat mengurangi verbalisme pada siswa.
    • Dapat mengkonkritkan penjelasan yang bersifat abstrak.
    • Dapat membantu siswa memahami dengan jelas jalannya suatu proses atau kerja suatu benda
    • Dapat memudahkan berbagai penjelasan bagi guru
    • Proses pengajaran lebih menarik.
    • Siswa dirangsang untuk aktif mengamati, menyesuaikan antara teori dengan kenyataan, dan mencoba melakukan sendiri.

    Kekurangan Metode Demonstrasi
    • Tidak semua cara kerja alat dapat didemonstrasikan
    • Sulit diingat siswa karena meeka tidak langsung megerjakannya
    • Tidak dapat diikuti siswa dengan baik jika jumlah siswa terlalu banyak
    • Kadangkala siswa sukar melihat dengan jelas alat yang akan ditunjukkan terutama yang mempunyai komponen-komponen yang cukup rumit
    • Sukar dimengerti siswa bila didemonstrasikan oleh guru, jika siswa kurang menguasai alat yang didemonstrasikan
    • Tidak ada jaminan semua siswa dapat mngulangi apa yang telah didemonsrtrasikan
    • Memerlukan keterampilan guru secara khusus, karena tanpa ditunjang dengan hal itu pelaksanaan demonstrasi akan tidak efektif
    • Demonstrasi memerlukan kesiapan dan perencanaan yang matang di samping memerlukan waktu yang cukup panjang. 

    5. Metode Eksperimen
    Metode Eksperimen adalh metode yang memberi kesempatan kepada siswa baik secara perorangan atau kelompok untuk melakukan suatu percobaan di laboratorium atau di lapangan, guna membuktikan teori atau menemukan sendiri suatu pengetahuan baru bagi siswa. Dengan metode ini, siswa dilatih menggunakan metode ilmiah, yaitu :
    1. Melakukan pengamatan
    2. Merumuskan masalah atau pertanyaan
    3. Menyusun hipotesis
    4. Menguji hipotesis atau melakukan percobaan
    5. Menarik kesimpulan
    Dengan melakukan eksperimen berarti siswa melakukan kegiatan yang mencakup pengendalian variabel, pengamatan, melibatkan pembanding atau kontrol dan penggunaan alat-alat pratikum dan dapat memperkaya pengalaman, mengembangkan sikap ilmiah dan hasil belajar akan bertahanlebih lama dalam ingatan siswa.Metode eksperimen ini paling tepat apabila digunakan atau dilaksanakan untuk merealisasikan pembelajaran dengan pendekatan inkuiri atau pendekatan discorvery (penemuan).Misalnya eksperimen pengaruh cahaya terhadap tumbuhan.

    Kelebihan metode eksperimen 
    • Siswa mempunyai pengalaman langsung terhadap suatu kegiatan
    • Mengembangkan sikap ilmiah
    • Dapat membuat siswa lebih percaya akan kebenaran berdasrkan percobaan sendiri daripada menerima kata guru atau buku
    • Dapat melibatkan multisensoris (melihat, mendengar, membau dan merasa)
    • Dapat mengembangkan sikap dan kemampuan untuk mengadakn studi eksplorasi (menjelajahi) tentang ilmu dan teknologi, suatu kemampuan dan sikap yang dituntut secara ilmuwan
    • Dapat membina siswa untuk membuat terobosan-terobosan baru dengan penemuan dari hasil percobaannya dan bermanfaat bagi kehidupan manusia
    • Siswa aktif terlibat mengumpulkan fakta, informasi, atau data yang diperlukan melalui percobaan yang dilakukannya
    • Memperkaya pengalaman dengan hal-hal yang bersifat objektif, realistis dan menghilangkan verbalisme.
    Kekurangan Metode Eksperimen
    • Memerlukan persiapan matang
    • Memerlukan biaya dan waktu yang banyak
    • Kekurangan alat mengakibatkan tidak setiap siswa berkesempatan melakukan eksperimen
    • Belum ada jaminan semua siswa dapat berhasil melakukan eksperimen, mungkin ada faktor-faktor tertentu yang berada di luar jangkauan kemampuan atau pengendalian
    • Metode ini lebih sesuai untuk menyajikan bidang-bidang sains dan teknologi
    • Tidak semua materi dapat dieksperimen
    • Metode ini menuntut ketelitian, keuletan dan ketabahan
    • Dapat menghambat laju pembelajaran dalam penelitian yang memerlukan waktu yang lama
    • Menimbulkan kesulitan bagi guru dan siswa apabila kurang berpengalaman dalam penelitian
    • Kegagalan dan kesalahan dalam bereksperimen akan berakibat pada kesalahan menyimpulkan
            Hal-hal yag perlu diperhatikan guru dalam menggunakan metode eksperimen menurut E.Mulyasa (2006), sebagai berikut:
            • Tetapkan tujuan eksperimen
            • Persiapkan alat dan atau bahan yang diperlukan
            • Persiapkan tempat eksperimen
            • Pertimbangkan jumlah peserta didik sesuai dengan alat-alat yang tersedia
            • Perhatikan keamanan dan kesehatan agar dapat memperkecil atau menghindarkan resiko yang merugikan atau berbahaya
            • Perhatikan disiplin atau tata tertib, terutama dalam menjaga perlatan dan bahan yang akan digunakan
            • Berikan penjelasan tentang apayang harus diperhatikan dan tahapan-tahapan yang mesti dilakukan siswa, termasuk yang dilarang dan yang membahayakan 

            6. Metode Pemberian Tugas (Resitasi)
            Metode pemberian tugas (resitasi) merupakan metode yang menugaskan siswa untuk mengejarkan sesuatu dengan tujuan  memantapkan, mendalami, dan memperkaya materi yang sudah dipelajari atau menemukan suatu pengetahuan, keterampilan dan sikap yang relevan atau sesuai dengan kompetensi yang ditetapkan.Tugas ini dapat dilakukan guru dengan menyuruh siswa membaca, membuat makalah, membuat kliping, membuat ringkasan.Setiap tugas yang dibuat siswa harus dihargai oleh guru dengan memberikan umpan balik, misalnya dikoreksi, dikomentari dan dinilai.

            Kelebihan Metode Pemberian Tugas
            Membuat siswa aktif belajar
            Siswa dapat menemukan hal-hal baru yang mungkin guru belum mengetahuinya
            Materi yang belum sempat dibahas dapat ditugaskan untuk belajar sendiri
            Pengetahuan yang diperoleh siswa dari hasil belajar sendiri akan dapat didingat lebih lama
            Dapat mengembngkan keberanian untuk mengambil inisiatif, bertanggungjawab dan mandiri di luar pengawasan guru.
            Dapat mengoptimalkan belajar siswa
            Dapat mengembangkan kreativitas serta membina disiplin siswa

            Kekurangan Metode Pemberian Tugas 
            • Sulit terkontrol apakah tugas itu dikerjakan sendiri atau dikerjakan orang lain
            • Khusus tugas kelompok, kadang yang mengejarkan siswa tertentu saja, sedangkan siswa yang lainnya tidak berpartisipasi dengan baik
            • Sulit memberikan tugas yang tidak bervariasi sehingga dapat menimbulkan kebosanan siswa
            • Tugas yang banyak dan sering dapat membuat beban dan keluhan siswa. 

            7. Metode Karyawisata/Widiawisata
            Metode karyawisata adalah suatu cara mendapatkan pengetahuan oleh siswa dengan jalan membawa mereka langsung ke objek yang terdapat di luar kelas atau lingkungan kehidupan nyata, agar mereka dapat mengamati secara langsung.Karyawisata ini suatu kunjungan yang direncanakan kepada suatu objek tertentu untuk dipelajari atau untuk memperoleh informasi yang diperlukan.

            Kelebihan Metode Karyawisata
            • Karyawisata dapat menerapkan prinsip pembelajaran dengan pendekatan CTL
            • Membuat bahan pelajaran di sekolah menjadi lebih hidup dan relevan dengan kenyataan dan kebutuhan yang ada di masyarakat
            • Merangsang kreativitas siswa sehingga menjadi lebih menarik
            • Dapat melatih siswa bagaimana cara berinteraksi dengan lingkungan
            • Mengandung unsur rileks sehingga diminati siswa
            • Dapat mengumpulkan informasi dari sumber primer

            Kekurangan Metode Karyawisata
            • Memerlukan persiapan yang matang dan melibatkan banyak pihak
            • Memerlukan tempat dan objek yang harus sesuai dengan materi pelajaran
            • Dalam karyawisata sering unsur rekreasi lebih menonjol daripada tujuan utama, sedang unsur, sedang unsur studinya menjadi terabaikan
            • Memerlukan pengawasan yang ketat terhadap setiap tingkah laku siswa di lapangan
            • Memerlukan biaya cukup mahal dan waktu yang cukup banyak
            • Tanggung jawab dan sekolah yang cukup berat atas kelancaran karyawisata karyawisata dan keselamatan siswa, terutama karyawisata jangka panjang dan jauh. 

            8. Metode Bermain Peran (role playing)
            Pembelajaran dengan metode bermain peran adalah pembelajaran dengan cara seolah-olah berada dalam suatu situasi untuk memperoleh suatu pemahaman tentang suatu konsep.Sebagai suatu contoh, pada pelajaran matematika untuk mendapat pemahaman mengenai kerangka kubus.Kerangka kubus dapat dibuat/dibentuk dengan beberapa cara.Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan metode bermain peran adalah : penentuan topik, penentuan anggota pemeran, pembuatan lembar kerja, pembuatan lembar kerja (kalau perlu), latihan singkat dialog (kalau perlu) dan pelaksanaan bermain peran.

            Kelebihan Metode Bermain Peran 
            • Siswa mendapat kesempatan terlibat secara aktif sehingga akan lebih memahami konsep dan lebih lama mengingat.
            • Dapat menkonkritkan materi yang abstrak

            Kekurangan metode peran
            • Dibutuhkan waktu yang cukup lama, baik dalam persiapan maupun dalam pelaksanannya.
            • Tidak dapat melibatkan seluruh siswa 

            9. Metode Latihan
            Metode latihan adalah suatu metode atau cara mengembangkan kompetensi atau skill siswa baik dalam aspek kognitif, afektif maupun psikomotor, sehingga siswa menjadi terampil dalam bidang yang dilatihkan.

            Kelebihan Metode Latihan 
            • Dapat mengembangkan kecakapan berpikir (thinking skill) atau kecerdasan intelektual
            • Dapat mengembangkan kecakapan motoris, seperti menulis, melafalkan huruf, membuat dan menggunakan alat-alat.
            • Dapat emperkuat mental, misalnya keberanian tampil di muka publik, keberanian mengeluarkan pendapat dan mengembangkan kecerdasan emosional yaitu terampil mengendalikan diri seperti tidak mudah marah.

            Kekurangan Metode Latihan 
            • Membutuhkan waktu banyak
            • Karena latihan yang berulang-ulang dan monoton sehingga menimbulkan kebosanan
            • Dapat melelahkan fisik atau pikiran
            • Menghambat bakat dan inisiatif siswa, karena siswa lebih banyak dibawa kepada penyesuaian 

            10. Metode Sosiodrama
            Metode Sosiodrama adalah cara mengajar yang meberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan kegiatan memainkan peran terutama yang terdapat dalam kehidupan masyarakat (kehidupan sosial) dengan kata lain siswa dapat mendramatisasikan tingkah laku dalam hubungannya dengan masalah sosial.

            Kelebihan Metode Sosiodrama 
            • Siswa akan terlatih untuk berinsiatif dan kreatif
            • Dapat melatih bahasa lisan siswa menjadi bahasa yang baik agar mudah dipahami oranglain
            • Dapat memupuk kerjasama yang baik antara sesama pemain
            • Dapat mebina kebiasaan untuk menerima dan membagi tanggungjawab dengan sesama pemain
            • Dapat memupuk bakat sehingga dimungkinkan akan tumbuh bibit seni drama

            Kekurangan Metode Sosiodrama 
            • Sebagian besar siswa yang tidak ikut bermain drama, mereka menjadi pasif
            • Banyak memakan waktu, baik waktu persiapan maupun waktu pelaksanaan pertunjukkan
            • Kelas lain sering terganggu oleh suara para pemain dan penonton yang terkadang bertepuk tangan dan perilaku lainnya 

            11. Metode Perolehan Konsep
            Menurut E.Mulyasa (2006), mengatakan bhwa konsep-onsep merupakan dasar bagi proses-proses mental yang lebih tinggi untuk memasukkan prinsi-prinsip dan generalisasi-generalisasi.Menurut Ausubel dalam E.Mulyasa, konsep-konsep diperoleh dengan dua cara yaitu konsep formasi dan konsep asimilasi.
            • Konsep formasi terutama merupakan bentuk perolehan konsep sebelum siswa masuk sekolah
            • Konsep asimilasi merupakan cara untuk memperoleh konsep selama atau sesudah sekolah 

            12. Metode Kerja Kelompok
            Metode kerja kelompok adalah metode mengajar dengan mengkondisikan siswa dalam suatu kelompok sebagai satu kesatuan dan diberi tugas untuk dibahas dalam kelompok tesebut. Yang artinya pelajaran tersebut diitikberatkan kepada anggota kelompok tersebut guna menyelesaikan tugas belajar secara bersama-sama.
            Selanjutnya guru juga mampu mengelompokkan siswa dalam suatu kelompok dapat didasarkan pada :
            • Perbedaan siswa dalam minat belajar dan kemampuan belajar.
            • Jenis pekerjaan yang diberikan.
            • Fasilitas yang tersedia.
            • Jenis kelamin.
            • Berdasarkan random.

            Kelebihan metode kerja kelompok 
            • dapat mengembangkan kepemimpinan siswa
            • siswa aktif mencari bahan
            • adanya kkompakkan dalam kelompok

            Kelemahan metode kerja kelompok 
            • hanya diberikan kesempatan kepada siswa yang aktif
            • memerlukan fasilitas yang beragam

            13. Metode Belajar Kooperatif
            Belajar kooperatif yang paling banyak diperbincangkan yaitu belajar kooperatif model “jigsaw” yang artinya di sini tiap anggota kelompok mempelajari materi yang berbeda untuk disampaikan atau diajarkan pada teman sekelompoknya.
            Metode belajar kooperatif ini, siswa berada dalam kelompok kecil dengan anggota sebanyak kira-kira 4-5 orang, kelompokk sedang 6-8 orang dan kelompok besar 10-15 orang. Dalam belajar kooperatif ini terjadi interaksi antara anggota kelompok. Semua anggota kelompok harus turut terlibat karena keberhasilan kelompok titunjang oleh aktifitas anggotanya, sehinnga anggota kelompok saling membantu. 

            14. Metode Ekspositori / Pameran
            Metode ekspositori adalah suatu penyajian visual dengan menggunakan benda dua dimensi atau tiga dimensi, dengan maksud mengemukakan gagasan atau sebagai alat untuk membantu meyampaikan informasi yang diperlukan. Jika guru mengajar dengan menggunakan model, misalnya menyelesaikan sistim persamaan linear dua peubah, berarti guru tersebut menggunakan metode ceramah atau metode ekspositori. Apabila guru mengajar dengan memperlihatkan proses penyelesaian sistem persamaan linear dengan dua peubah, berarti dia menggunakan metode demonstrasi dan metode ekspositori.

            Posted on Minggu, Juni 26, 2011 by Eman Mendrofa

            No comments