1. Pendidikan Dalam Pandangan Ontologi
Tiap sudut pandang dalam perspektif yang berbeda maka menghasilkan pengetahuan yang berbeda pula. Demikian pula dengan pendidikan. Dalam pandangan ontologi pendidikan adalah suatu bentuk lembaga yang menyelenggarakan atau menjadi tempat/wadah terjadinya proses pendidikan. Sudut pandangnya terfokus pada eksistensi lembaga itu sendiri bukan proses yang terjadi didalamnya.
Menurut pandangan ontologi, apapun namanya entah tumbuhan, hewan atau manusia selama ia melakukan atau mengalami perubahan dari satu kondisi (umumnya dianggap tidak atau kurang baik) menuju ke kondisi lain (dianggap/dipandang lebih baik) maka ia bisa disebut sebagai pendidikan. Sifat konsep yang dikandung lebih meluas. Akibatnya, dalam pandangan ontologi konsep pendidikan menjadi tak terbatas. Semua benda atau konsep itu sendiri bisa disebut pendidikan.
Dari sudut pandang ontologi lahir konsep-konsep seperti : pendidikan di dalam diri manusia, alam semesta yang mengalami pendidikan, pendidikan di dalam masyarakat, politik pendidikan, pendidikan politik, pendidikan trans-dimensi realitas, dan seterusnya. Sudut pandangnya hampir selalu sama menfokuskan pada aspek benda yang mengalami perubahan. Terkait unsur tujuan, nilai fungsi, atau arah (aksiologi) dari pendidikan itu sendiri tidak berguna dan tidak diperhatikan sebagai unsur penentu untuk dapat disebut pendidikan. Contohnya muncul istilah pendidikan kejahatan. Dalam pandangan aksiologi tidak ada dan tidak dikenal istilah mendidik untuk berbuat jahat. Yang disebut mendidik itu selalu baik dan tidak mungkin buruk apalagi jahat.
Bagi ontologi beda. Karena Ontologi merupakan ilmu yang mempelajari yang ada (tapi kadang tidak diikuti dengan yang umum), maka konsep pendidikan dipandang menurut keberadaannya sebagai suatu kenyataan atau pemikiran yang muncul atau nampak. Konsepnya menjadi lebih sederhana namun meluas. Terbebas dari nilai-nilai subjektif. Sebab ini pula yang menempatkan ontologi sebagai filsafat ‘pertama’. Pandangan paling dasar ontologi terhadap pendidikan adalah wujud “Lembaga”, karena wujud yang ‘ada dan nyata’ dari pendidikan adalah lembaga.

2. Pendidikan Dalam Pandangan Epistemologi
Menurut konsepnya, Epistemologi adalah ilmu yang mempelajari asal-usul, proses, dan hasil bentukan pengetahuan yang secara umum menyangkut aspek formal dan materilnya. Dari konsep tersebut bisa dikatakan bahwa epistemologi memandang pendidikan sebagai suatu “Proses”. Karena bila ditelusuri menurut akar ilmu maupun konsep ontologis yang melekat dalam istilah pendidikan, konsep pendidikan menunjukkan suatu proses belajar-mengajar.
Walaupun dalam pandangan ontologi sendiri pendidikan dimaknai sebagai suatu ‘lembaga’, tetapi yang paling melekat dan khas dari lembaga tersebut menurut penelusuran epistemologi justru menunjukkan konsep suatu ‘proses’. Dan proses ini dalam pandangan epistemologi pasti memiliki nilai-nilai aksiologi yang positif (baik). Di sini salah satu letak perbedaan konsep ontologi dan epistemologi. Epistemologi mempelajari suatu objek sejak awal hingga akhir, dari asal-usul pengetahuan sampai kemana bentukan pengetahuan tersebut bergerak. Sedangkan pendidikan sebagai salah satu objek yang ditelaah epistemologi menurut penelusuran asal-usul sampai pada konsep aksiologinya menunjukkan bahwa pendidikan adalah suatu ‘proses’ dari yang tidak atau kurang baik menuju kearah yang lebih baik.
Epistemologi tidak bisa memutar-balikan suatu konsep seperti halnya ontologi. Bagi epistemologi, pengetahuan itu bersifat pasti dan tetap. Oleh sebab itu dalam pandangan epistemologi pengetahuan itu harus jelas asal-usulnya, prosesnya, hasil bentukan dan arah pergerakan pengetahuan itu sendiri.
Dari sini kemudian telaah epistemologi ikut melebar menjangkau wilayah-wilayah keilmuan lain seiring meluasnya konsep ontologi pendidikan. Wajar bila dalam perkembangannya di dalam telaah epistemologi terjadi reaksi inter dan multi disipliner ilmu. Secara umum reaksi ini muncul disebabkan oleh pergerakan dari konsep ontologi bukan dari dalam telaah epistemologi. Telaah epistemologi dalam banyak hal cenderung stabil, tetap dan lebih bersifat pasti.
Telaah epistemologi pendidikan yang menyangkut objek formal dan materialnya memang mengikuti pergerakan konsep ontologi, tetapi reaksi mengikuti pergerakan konsep ontologi tidak bersifat mutlak. Epistemologi mempunyai standar dan ukuran sendiri yang berbeda dengan ontologi dalam telaah ilmu. Jika telaah ontologi dikatakan bebas dan meluas, maka sebaliknya dengan telaah epistemologi. Telaah epistemologi harus mengikuti kaidah-kaidah dan prosedur sistematisasi ilmiah. Oleh sebab itu menjadi lebih khusus.

3. Pendidikan Dalam Pandangan Aksiologi
Aksiologi adalah ilmu yang mempelajari segala sesuatu yang berhubungan dengan tujuan, hasil, arah atau nilai guna suatu proses. Dari sudut pandang aksiologi , pendidikan dinilai menurut keberadaannya dalam menghasilkan atau menciptakan sesuatu. Oleh sebab itu dalam pandangan aksiologi pendidikan adalah suatu “alat”. Karena pendidikan dapat digunakan untuk menciptakan atau menghasilkan situasi atau kondisi yang lebih baik dari sebelumnya. Pendidikan mampu memproses manusia dari kondisi yang tidak atau kurang baik menuju ke kondisi yang lebih baik. Guna pendidikan dalam pandangan aksiologi di sini, yaitu sebagai ‘alat pencipta’ atau ‘pemerbaiki’.
Aksiologi tidak terlalu fokus pada cara-cara, mekanisme atau pergerakan terjadinya proses pendidikan seperti yang ada dalam pendangan epistemologi, atau wujud yang nyata ada dari pendidikan (ontologi), tetapi menekankan pada kemampuan mencipta dan menghasilkan pendidikan itu sendiri.
Bagi aksiologi, pendidikan seperti sebuah mesin. Input dimasukkan, keluar sudah menjadi produk siap pakai. Penilaian pendidikan sebagai suatu ‘alat’ ini merupakan kecenderungan pokok yang menjadi entitas (sesuatu yang melekat dalam diri) aksiologi pada pendidikan, sama halnya seperti pandangan pendidikan sebagai suatu ‘lembaga’ menurut ontologi dan pendidikan sebagai suatu ‘proses’ dalam pandangan epistemologi. Dan memang seperti itu cara pandang ketiganya, sekaligus keunikan yang dimiliki dari objek yang disebut pendidikan.
Cara pandang aksiologi menurut versinya sendiri terkadang mengabaikan nilai-nilai normatif, sama seperti yang lain. Hal ini disebabkan aksiologi tidak lagi digunakan sebagai tujuan atau arah yang ingin dicapai dalam pendidikan, tetapi sebagai sudut pandang. Karena fungsinya sebagai sudut pandang; aksiologi jadi menempatkan posisinya diluar sistem akibatnya menjadi tidak objektif lagi seperti ketika ia menempati posisinya dalam struktur ilmu.
Dalam pandangan aksiologi, pendidikan hanyalah suatu alat yang dapat digunakan untuk menciptakan atau menghasilkan situasi atau kondisi sesuai dengan yang diharapkan. Konsep ini adalah yang paling idealis dalam pandangan aksiologi. Tetapi jika disederhanakan lagi dikembalikan pada akar ilmunya menjadi berbeda. Konsepnya menjadi; pendidikan adalah alat untuk melakukan perubahan. Sama seperti ontologi, sederhana dan meluas.